09 November 2009

“MENYULAP” PADANG MELANG MENJADI BALI

Judul diatas saya kutip dari sebuah news article yang di publish Detik Bandung dot com pada Mei 2009 silam. Dalam artikel tersebut Detik mewartakan perihal kompetisi mahasiswa wirausaha yang diikuti oleh rekan saya Efrizal, anak jati Anambas yang sedang studi di salah satu sekolah tinggi ilmu ekonomi di Bandung. Dalam kompetisi tersebut Efrizal berimajinasi ilmiah tentang bagaimana mengubah pantai Padang Melang (baca: pantai-pantai di Anambas) yang tidak terawat menjadi seperti pantai-pantai di Bali. Lengkap dengan deskripsi kondisi alam, rancangan bisnis penginapan dan travel, serta analisis produk-produk pariwisata yang akan dijual berikut segmen marketnya. Syahdan, rancangan tersebut mengantar Efrizal sebagai pemenang ketiga dalam kompetisi itu.

Bali Punya Kuta, Anambas Punya Melang
Pariwisata di Bali memang luar biasa, setiap tahun sekitar empat juta wisatawan asing berkunjung kesini, belum lagi wisatawan domestiknya. Tak heran jika Pulau Bali dipilih menjadi pulau tujuan wisata terbaik pada tahun 2009 versi majalah Travel Leisure, mengungguli Pulau Galapagos, Pulau Cape Breton, Kauai dan Mount Desert Island, Maine. Sektor pariwisata di Bali juga mendatangkan devisa yang sangat besar sekitar 2,5 miliar dolar AS atau Rp 26 triliun per tahun, juga memberikan sumbangan terhadap PAD yang tak terbilang kecil. Sebut saja Badung, salah satu kabupaten di Bali mendapat sekitar Rp 500 miliar hanya dari pajak hotel dan restoran. Semua itu tentu saja belum termasuk efek berganda (multiplying effect) bagi perputaran ekonomi lokal.

Adakah cuma Bali yang eksotik dengan panoramanya. Kawan saya diatas bukan sedang mengada. Sebenarnya kepulauan Anambas juga tak kalah indah. Bila di Bali ada pantai Kuta, Jimbaran dan Tanjung Benoa, di Anambas punya Padang Melang, Temawan, dan Tanjung Momong. Di Bali ada Sanur yang menggoda penyuka snorkeling dan diving, di Anambas ada pulau Bawah. Jika di Bali ada pura Tanah Lot yang terletak di atas bongkahan batu karang di tepi samudra Hindia, Anambas juga punya Vihara Gunung Dewa Siantan yang dibangun kokoh menjulang diatas bebatuan yang menghadap laut China Selatan. Di Bali ada pulau Serangan yang oleh turis asing lazim dipanggil Turtles Island, di kita ada pulau Durai. Di Bali ada tarian beralur cerita seperti Barong dan Kecak Anambas punya Mendu dan Gobang. Di Bali ada gamelan, kita punya Gendang Siantan. Air terjun Gitgit, Melanting, dan Nungnung adalah kebanggaan warga Bali. Air terjun Temburun, Niraja, dan air terjun Air Bini adalah kepunyaan kita.

Public Policy di Balik Keunggulan Bali.
Memang tak adil membandingkan wisata Bali yang sudah bertahun-tahun dikembangkan secara professional dengan kepulauan Anambas yang baru saja menjadi daerah otonom sejak setahun lalu. Namun menjadikan Bali sebagai referensi pengembangan pariwisata kita amatlah reaslistik dan visioner.

Sepekan berpetualang sebagai backpacker di pulau Dewata itu memberi saya informasi yang berharga bagi sebuah short analysis tentang kebijakan pariwisata kita. Hemat saya setidaknya ada empat hal pokok yang menjadikan pariwisata di Bali cukup sukses. Pertama, adalah komitmen pemerintah pusat dan pemerintah lokal untuk menjadikan sektor pariwisata di Bali sebagai sektor unggulan. Kesungguhan hati ini betul-betul dilaksanakan secara konsisten bukan sekadar lips services. Hal ini misalnya dapat dilihat dari komitmen menjaga kondisi tetap aman serta pembangunan dan pemeliharaan sarana publik terutama jalan, jembatan, pelabuhan laut serta udara.

Kedua, adalah investasi. Mustahil Bali bisa berkembang pesat tanpa mengandalkan investasi domestik maupun asing. Kita semua pasti sepakat bahwa investasi amat penting bagi urat nadi perekonomian diberbagai bidang tanpa terkecuali pada tourism sector, namun kondisi seperti di Bali baru bisa ditiru jika iklim investasi kita sehat. Jangan sampai harga tanah mendadak melonjak beratus-ratus kali lipat melebihi kemampuan menghitung dengan akal sehat, sewaktu akan ada pembebasan lahan untuk pembangunan sarana dan prasarana penunjang pariwisata

Ketiga, Usaha pariwisata adalah usaha yang terintegratif, semuanya saling bahu membahu. Jika di Bali ada hotel berbintang hasil investasi kapitalis asing, selalu ada ruang buat koperasi desa misalnya penyediaan sarana bermain, pusat jajanan, souvenir sampai jasa spa dan pijat tradisional. Jika pemerintah membangun taman budaya, maka masyarakatlah yang berperan mengelolanya. Kebijakan pariwisata di Bali adalah contoh yang baik bagi sinerginya ketiga domain governance; pemerintah, sektor privat, dan masyarakat.

Keempat, adalah promosi. Bali amat terkenal, saking terkenalnya seorang kenalan dari negeri Paman Sam pernah mengira Bali is the country, and Indonesia is a part of Bali. Namun dalam promosi yang menjadi tolak ukur hendaknya bukan output (keluaran) tetapi outcome (hasil). Promosi baru bisa kita anggap berhasil jika ada impact yang perkembangannya dapat diamati secara statistik. Sayangnya promosi pariwisata kita selama ini bertitik tekan hanya kepada output. Tak kalah penting dalam promosi pariwisata di Bali yang patut kita tiru adalah kemampuan empowerment serta memproduksi barang dan keunggulan lokal menjadi sesuatu yang patut dijual.

Melirik Anambas, tentu saja kita punya potensi yang sangat prospektif. Disinilah pemerintah Kepulauan Anambas kedepan dituntut memiliki wawasan kepariwisataan dan kemaritiman yang bersinergi dengan spirit kewirausahaan. Mudah-mudahan imajinasi ilmiah kawan saya diatas suatu masa kelak benar-benar menjadi fakta yang tak terbantahkan.

Sebelumnya telah di muat di Koran Umum Anambas Pos, edisi 7, November 2009.
Baca Selengkapnya...

07 November 2009

LIBURAN KE BALI ALA BACKPACKER

Siapa bilang liburan harus selalu dengan uang banyak. Jika anda punya niat berlibur ke suatu tempat namun kemampuan finansial anda amat terbatas, maka cara paling tepat mensiasatinya adalah dengan berlibur ala backpacker. Pengalaman inilah yang mau saya bagi lewat blogging kali ini sebagai hasil petualangan saya selama sepekan di pulau Bali.

Perjalanan ke Bali saya mulai dengan memesan tiket pesawat PP Jakarta-Denpasar-Jakarta, seharga Rp 824.000,-. (kalau beruntung bisa lebih murah, rajin-rajinlah mengecek situs reservasi online). Sampai di Bali, karena hari sudah sore, langsung saja saya bergegas mencari penginapan murah. Kebetulan dapatnya di daerah Bunisari tepat di depan jalan Legian kira-kira 5-10 menit dari Pantai Kuta (Di jalan Poppies juga banyak sekali penginapan murah, dimana tourist bermodal cekak biasa mangkal). Harga penginapannya Rp. 60.000,- permalam (fasilitas tempat tidur, kipas angin, dan toilet dalam kamar).

Untuk mempermudah petualangan selama di Bali saya pilih menggunakan kendaraan sepeda motor, lewat pemilik penginapan saya diantar ke sebuah jasa penyewaan sepeda motor di dekat jalan Kartika Plaza. Harga sewa motor Rp 50.000,- perhari. Usai menyewa motor saya langsung tancap gas ke pantai Kuta menikmati Sunset disana, kemudian keliling-keliling seputar jalan Legian hingga ke Denpasar. Makan malam pertama saya di Bali, saya coba untuk mencicipi ikan kakap goreng di sebuah warung makan lesehan. Satu kali santap cukup Rp. 15.000,- (kalau makan di warung biasa rata-rata saya menghabiskan Rp. 8000-10.000 sekali santap, (lumayan murah bukan?!!..)

Tak puas menikmati keindahan pantai Kuta dihari petama, pada hari kedua saya habiskan untuk kembali berlama-lama di pantai itu. Lelah berseluncur dengan body board (sewa body board Rp. 30.000,- harga nego) saya coba berjemur di tepian pantai sambil bercas cis cus dan berbagi cerita tentang kehidupan remaja dan anak kuliahan dengan dua orang backpacker dari Inggris, Anthony dan Christ. Oh ya, tariff berenang di pantai Kuta adalah Rp. 0,- alias free of charge. Usai berjemur saya coba terima tawaran penjaja tato temporary (ih..sesekali menghargai karya seni dengan cara yang agak nakal gpp kan), lumayan karena keahlian menawar saya berhasil dapat harga yang sangat miring, Rp. 50.000,- untuk dua gambar tato ukuran sedang. Usai bertato ria, saya coba melemaskan otot-otot yang agak tegang dengan cara menikmati pijatan ibu-ibu penjaja jasa pijat di pantai Kuta. Malam harinya saya putuskan untuk keliling kota Denpasar sambil singgah ke Supermaket untuk membeli beberapa botol air mineral dan snack.

Hari ketiga di Bali, saya mulai dengan menghadiri pertunjungan Tari Barong di Batubulan, kira-kira 45 km dari Kuta, tiket masuk pertunjukan Rp. 80.000,- Usai menikmati tarian Barong saya langsung melanjutkan perjalanan ke Utara yakni ke Goa Gajah. Sebuah Pura kuno yang pintu masuknya merupakan pahatan Batu Goa. Di sana juga terdapat beberapa peninggalan bersejarah lainnya seperti air mancur, reruntuhan patung Budha, dan lain-lain yang tentunya sudah berusia berabad-abad. Habis dari Goa Gajah, sebelum pulang ke Kuta saya sempatkan untuk mampir ke Pantai Sanur di Denpasar, duduk beberapa saat ditepian sebuah dermaga kecil sambil menikmat suara dentuman air hasil kreasi bocah-bocah pantai yang terjun bebas menikmati keindahan alam. Sehabis dari Sanur, saya langsung kembali ke penginapan di Kuta…uppss mampir lagi di sebuah toko penyedia oleh-oleh khas Bali yang terletak di jalan Raya Kuta untuk membeli beberapa bingkisan sekadar kenang-kenangan buat teman-teman dan keluarga.

Hari keempat di pulau Dewata saya manfaatkan untuk menelusuri kawasan Uluwatu, (kira-kira 30-40 km dari Kuta) apalagi kalau bukan buat berenang merasakan hawa air laut yang agak hangat di kawasan Dream Land. Panorama di Dreamland benar-benar membuat saya takjub dan terkagum-kagum. Pantai yang putih bersih berada dalam lindungan bongkahan-bongkahan batu dan tebing yang curam. Nun beberapa meter di tengah laut para surfer asyik masygul menari-nari di atas ombak. Sementara mereka yang lelah berkabung dengan air asin tanpak pasrah di bawah tabir surya persis di celah bongkahan-bongkahan batu amat sangat besar yang arsitekturnya meliuk-liuk bak studio di cinema 21. Semasa berenang di Dreamland, saya tak mau melewatkan kesempatan untuk menguji kemampuan saya berbahasa Inggris dengan beberapa orang asing yang tentu belum pernah saya temui sebelumnya. (Oh ya, masuk ke Dreamland juga free hanya tariff parkir bagi anda yang bawa kendaraan). Usai dari dreamland saya arahkan kemudi sepeda motor sewaan menuju Pura Uluwatu menikmati sunset view. Beberapa saat kemudian cak…cak…cak…teriakan suara penari kecak memanggil saya. Bak turis yang penuh antusiasme saya duduk di barisan paling depan dari bangku bertingkat yang disediakan penyuguh acara. Tarif masuk pertunjukan Rp. 50.000,-

Rencana saya dihari berikutnya tak lain adalah mencoba permainan parasailing dan jet sky. Tanjung Benoa adalah target saya dihari itu dengan terlebih dahulu mampir ke pantai Jimbaran untuk sekadar melihat-lihat. Untuk mencoba permainan parasailing dan jet sky saya harus merogoh saku Rp. 250.000,- tetapi kepuasan yang didapat benar-benar terbayarkan. Lewat parasailing kita dapat menikmati keindahan panorama laut dari atas, sungguh luar biasa. Belum lagi tiupan angin yang menerpa kencang tubuh kita di ketinggian membuat tubuh ini terbang ringan.. plong… tak terkira… bak elang yang pulang tenang dari mencari mangsa. Sedang bermain jet sky walau hanya sekira 15 menit tak ubahnya seperti berkendara bebas di lautan lepas, sungguh-sungguh menakjubkan. Usai bermain Jet Sky saya sempatkan untuk melintas pelan di kawasan Universitas Udayana, sebuah perguruan tinggi terkemuka di Bali bahkan di Indonesia bagian Tengah. Puas melihat-lihat kawasan kampus saya langsung meluncur ke Garuda Wisnu Kencana (GWK) sebuah taman budaya yang sangat luas. Disana sedang dibangun patung raksasa berbentuk Dewa Wisnu yang sedang mengendarai seekor burung Garuda. Konon patung tersebut akan jadi Landmark pulau Bali dimasa mendatang. Di GWK saya sempatkan pula untuk menyaksikan Tari Kecak Kreasi setelah sebelumnya menikmati Es Doger dan cemilan sekadarnya. Tarif masuk GWK Cuma Rp. 20.000 sudah include macam ragam persembahan musik dan tarian tradisional.

Dua hari menjelang kepulangan saya ke Jakarta, saya manfaatkan untuk mengunjungi Pura Tanah Lot (kira-kira 30 km dari Kuta) sebuah Pura tua yang terletak diatas bongkahan karang ditengan laut yang persis menghadap Lautan Hindia ( tiket masuk kawasan wisata Tanah Lot Rp 10.000,)Pemandangan di Tanah Lot tak kalah dengan pemandangan di Uluwatu. Di Tanah Lot saya bertemu dengan sesama backpacker, Anne dari Amerika dan Alessio yang asal Itali. Merasa senasib sesama backpacker kami habiskan waktu bersama di Tanah Lot sambil menikmati suasana sunset. Panorama matahari terbenam disana tampak jelas nyaris tak tertutup awan, wajah mentari yang merah kekuning-kuningan tanpak mengintip malu-malu di tengah samudra Hindia kemudian bersembunyi dibalik selubung biru sampai keesokan hari. Puas memandang panorama matahari terbenam dari sebuah café diatas pelataran bukit di Tanah Lot, atas ajakan Anne yang sudah dua pekan di Bali saya dan Alessio langsung menuju ke pantai Echo, dinner bareng di restoran Echo Beach, sambil menikmati hentakan musik improvisasi seorang DJ dan angin sepoi-sepoi tepat dari bibir pantai di depan restoran. (tarif makan di restoran yang hampir semuanya diisi orang asing itu juga lumayan murah, kisaran Rp. 40.000- 80.000,-/ porsi tergantung jenis makanan yang kita pesan). Dari Anne dan Alessio saya banyak menimba informasi tentang pengalaman mereka berbackpacking ria di beberapa Negara. Usai dinner di Echo Beach badan saya terasa pegel-pegel, agaknya mencoba Baliness traditional massages adalah pilihan yang tak salah. Sebelum pulang ke penginapan saya putuskan untuk mampir ke salah satu penyedia jasa pijat di dekat Jln. Pantai Kuta, tarifnya lumayan murah hanya Rp. 45.000,- per hour.

Bali benar-benar pulau yang memikat setiap pengunjung. Tak terasa sudah sepekan saya di pulau itu. Di hari terkahir ini tak ada lagi yang dapat menghalang saya dari niat untuk merasakan deburan ombak diatas papan surfing di pantai Kuta. Tarif sewa surfing board adalah Rp. 50.000,- (harga nego). Meski awalnya agak kesulitan tapi berkat curi-curi ilmu dari para pemain disekitar, saya berhasil menaklukkan papan seluncur gelombang itu. Puas berseluncur dengan papan surfing saya coba sekali lagi berjemur ala turis asing sambil memandang keeksotikan alam pulau dewata. Empat jam sebelum keberangkatan saya sempatkan untuk mampir ke pusat jajanan Joger yang terkenal dengan pabrik kata-katanya. Tak terasa uang 300 ribuan ludes dengan sekejap untuk shopping oleh-oleh dan kenang-kenangan pribadi. Sebelum terbang ke Jakarta, saya masih punya waktu sekira 2 jam di Bandara Ngurah Rai, habis memeriksa laman di situs Facebook saya manfaatkan untuk kembali bercas cis cus dengan seorang madam Australia, maaf namanya saya lupa. Saling berbagi cerita tentang pengalaman traveling, membuat saya hampir lupa dengan jadwal keberangkatan, untung panggilan dari operator bandara agar penumpang segera boarding cukup keras. Habislah masa liburan saya di pulau Bali. Lets fly, Good Bye Bali, Good bye the heaven of backpackers, I miss U always…
Baca Selengkapnya...

25 Oktober 2009

SILATURRAHMI DENGAN WAKIL BUPATI NATUNA

Minggu, 18 Oktober pekan lalu mahasiswa Anambas di Bandung mendapat kunjungan istimewa. Raja Amirullah, anak jati Anambas yang saat ini menjabat Wakil Bupati Natuna datang ke Pondokan Putra Datuk Dewa Perkasa yang merupakan sekretariat Keluarga Pelajar Mahasiswa Anambas (KPMA) Bandung. Amir yang datang bersama dua orang staffnya itu mengaku bahwa kehadirannya atas ajakan dari Matari Yasinullah HS, ketua KPMA saat ini. Kunjungan tersebut adalah kali pertama bagi pejabat eksekutif kabupaten Natuna ke asrama mahasiswa Anambas di Bandung pasca pemisahan daerah tersebut dari Natuna.

Namun demikian Amir menegaskan kunjungannya ke asrama mahasiswa Anambas bukan dalam kapasitasnya sebagai wakil Bupati, tetapi hanya sebagai tokoh masyarakat Anambas yang dulu juga pernah menempuh studinya di Bandung. Amir juga menyangkal jika ada yang menyebut silaturrahminya dengan mahasiswa Anambas sebagai kampanye politik jelang Pilkada Anambas tahun depan. Penyandang gelar apoteker itu memang belakangan disebut-sebut sebagai salah satu tokoh yang bakal maju dalam Pilkada Anambas.

Dalam silaturrahmi yang berlangsung sekitar setengah jam itu, Raja Amir berpenampilan cukup santai, ia bahkan berkali-kali tertawa terbahak mengenang masa suatu ia kuliah di Bandung dulu. Ia juga berkali-kali lewat gurauan segar khas masyarakat Melayu Anambas menyinyir kebiasaan-kebiasaan warga Anambas dalam pergaulan sehari-hari. Guyonan Amir yang begitu lepas itupun di sambut tawa sekitar 25 mahasiswa/i yang hadir, seolah tak ada jarak diantara mereka dengan seorang pejabat daerah.

Amir yang sempat menitipkan bantuan sekadarnya kepada mahasiswa Anambas mengajak para mahasiswa bersyukur karena telah diberikan kemudahan fasilitas asrama oleh Pemda setempat. Ia sempat pula menyatakan kekagumannya akan solidarirtas para mahasiswa Anambas, dan berpesan agar mahasiswa sesekali perlu membuat telaahan akademik tentang pembangunan Anambas kedepan.

Kunjungan Amir ke Jawa sebenarnya adalah dalam rangka meresmikan asrama mahasiswa Natuna di Bandung yang berjarak sekitar 3 km dari asrama mahasiswa Anambas. Usai bertemu mahasiswa Anambas Amir segera meluncur ke Jakarta guna menjenguk Bupati Natuna Daeng Rusnadi yang baru saja ditahan KPK beberapa hari sebelumnya.
Baca Selengkapnya...

19 Oktober 2009

AMAT YANI TANDANGI MARKAS MAHASISWA ANAMBAS

Jum'at 16 Oktober 2009 kemarin, anggota DPRD Natuna dari Dapil Anambas yang juga bakal calon ketua DPRD Anambas, Amat Yani bertandang ke kediaman pelajar dan mahasiswa Anambas di Bandung, pondokan Putra Datuk Dewa Perkasa. Amat datang bersama Sekjen Badan Pembentukan dan Penyelaras Kabupaten Kepulauan Anambas (BP2KKA) Wann Saros, dan sejumlah tokoh BP2KKA lainnya Erwin dan Syahril.

Dalam silaturahmi tersebut Amat menuturkan bahwa mahasiswa Anambas sebagai kaum intelektual muda perlu terlibat dalam proses pembangunan di Anambas diantaranya melalui kontribusi pewacanaan dan pemikiran terhadap arah pembangunan Anambas kedepan. Amat juga mengingatkan perlunya mahasiswa bersinergi dengan pemerintah daerah, untuk itu ia meminta para mahasiswa agar tidak segan-segan menyampaikan aspirasi kepada dirinya. Amat juga menekankan bahwa sesekali ide-ide tentang pembangunan Anambas agar bisa dikomunikasikan dengan pejabat di daerah, termasuk kemungkinan memanfaatkan media massa lokal.

Sedang Wann Saros yang juga menekankan hal senada, menambahkan bahwa tokoh-tokoh muda memiliki kelebihan tersendiri bilamana berdialog dengan mahasiswa. Jarak usia yang tak terlalu jauh memungkinkan mereka dapat lebih komunikatif. Sehingga apa yang ingin di disampaikan dapat ditanggapi secara lebih responsif. Wann juga sempat berdiskusi tentang perjalanan kabupaten Kepulauan Anambas setahun ini dan rencana Pilkada tahun depan. Ia secara lugas menginginkan agar yang berkompetisi nanti adalah putra-putra lokal terbaik Anambas, sehingga siapapun yang menang berarti juga adalah kemenangan sesama saudara.

Matari Yasinullah HS yang saat ini menjabat sebagai ketua Keluarga Pelajar Mahasiswa Anambas (KPMA) Bandung, sekaligus Sekjen Forum Komunikasi Mahasiswa Anambas Se-Indonesia sempat pula menuturkan tentang harapan-harapan mahasiswa kepada Amat Yani tentang persoalan di Anambas dewasa ini semisal mengenai listrik dan ketenagakerjaan. Ia juga menyinggung soal kebutuhan mahasiswa Anambas tentang pengadaan asrama permanen agar bisa direalisasikan, jika memang nanti keadaan keuangan pemerintah Kepulauan Anambas telah memungkinkan untuk itu.

Silaturahmi yang berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam itu berlangsung sangat akrab dan penuh suasana kekeluargaan dengan dihadiri oleh sekitar 15 orang anggota KPMA dari sekira 60 anggota. Sebelum meninggalkan pondokan Putra, Amat sempat pula berpesan agar mahasiswa lebih giat dalm menuntut ilmu sambil memberikan bantuan sekadarnya kepada pengurus KPMA Bandung.
Baca Selengkapnya...

17 Oktober 2009

70 MAHASISWA KEPRI DI BANDUNG TERIMA BEASISWA

Sebanyak 70 orang mahasiswa asal Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) di Bandung menerima beasiswa dari Pemerintah Provinsi Kepri. Penyerahan beasiswa tersebut dilakukan berbarengan dengan acara halal bilhalal dan silaturrahmi warga Bandung asal Kepri dengan Gubernur Kepri Ismeth Abdullah pada Kamis 15 Juli 2009 lalu.

Dalam perhelatan yang berlangsung cukup meriah itu, turut hadir pula Aida Ismeth Abdullah anggota DPD asal provinsi Kepri, Nur Syafriadi ketua DPRD Provinsi Kepri, dan sejumlah jajaran pemerintahan provinsi Kepulauan Riau.

Program beasiswa yang dibagikan Pemrov Kepri tersebut merupakan program beasiswa yang diadakan setiap tahunnya sejak tiga tahun lalu. Namun selama dua tahun belakangan ini guna memudahkan penyeleksian bagi calon penerima beasiswa, Pemrov Kepri bekerja sama dengan warga Bandung asal Kepri yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Provinsi Kepulauan Riau (IKPKR) Bandung.

Drg. Sufiyar, ketua umum IKPKR menuturkan bahwa dalam penyeleksian tersebut ditemukan beberapa mahasiswa yang terbukti menyampaikan data secara tidak benar semisal melakukan mark up nilai. Untuk itu tim penyeleksi IKPKR terpaksa melakukan verikasi di kampus masing-masing pemohon.

Pada tahun 2009 ini tak kurang dari 70 mahasiswa asal Kepri dari berbagai jenjang pendidikan yang menerima beasiswa. Adapun nominal yang diterima untuk mahasiswa dari program D3 Rp 3.000.000,- tiap mahasiswa, sedang untuk jenjang S1 menerima Rp 3.500.000,- , dan Rp. 4.000.000,- untuk mahasiswa program S2.
Baca Selengkapnya...