31 Desember 2009

102,2 BERLIAN FM

Sudah hampir tiga pekan ini, bersama beberapa orang rekan yang sama-sama baru lulus kuliah, kami kembali mengoperasikan sebuah radio komunitas. Kami menyebutnya Berlian FM, Radio Komunitas Masyarakat Anambas. Meski minim pengalaman, dan perangkat teknis yang serba terbatas, antusiasme publik ternyata cukup baik. Segmen terbesar sudah bisa ditebak pastinya kalangan remaja.

Misi kami menghidupkan kembali radio ini sederhana saja, selain untuk mengisi kekosongan waktu juga karena tanggung jawab sosial untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan kabupaten Kepulauan Anambas yang baru seumur jagung itu. Sebab esensinya pembangunan tak hanya meliputi aspek pembangunan fisik tetapi juga pembangunan masyarakat, dan kita semua terutama para sarjana punya tanggung jawab untuk itu.

Nama "Berlian" kami ambil dari slogan kota Tarempa, pusat pemerintahan kabupaten Kepulauan Anambas. Berlian berarti Bersih Luwes Indah Agamis dan Nyaman. Bisa juga diartikan Bersama Lima Anak Anambas, karena kebetulan crew intinya berjumlah lima orang.

Sementara itu meski baru berdiri dan masih dalam tahap uji coba, radio kami sudah punya serangkaian program unggulan. Diantaranya adalah Nada Berlian, Lets Request Indonesia, Oldest but Goldest, dan Planet of Us. Kami tak ingin radio ini hanya menjadi sarana yang meng-entertaint publik, tapi juga kiranya dapat mengedukasi masyarakat serta ikut melestarikan khasanah budaya. Oleh karenanya program seperti Sempadan Siantan (Siaran khusus berbahasa Melayu), Warta Online, Nice English, Otista (Obrolan Infromatif Tapi Santai) dan juga spirit of Islam ikut kami ketengahkan sebagai bagian dari rangkaian acara yang disuguhkan kepada pendengar.

Tak mudah memang menjalankan radio ini, karena misinya adalah misi sosial yang non profit oriented jadi semua pekerja juga harus rela bekerja tanpa dibayar, termasuk para announcer dan tamu yang diundang. Namun untuk menopang sebagian dana operasional kami mengandalkan penjualan request card yang dijual, Rp. 1000,-/ card. Sebagian yang lainnya tentunya dari kantong pribadi. Sedang pesawat pemancar dan sejumlah peralatan pendukung didapat dari sponsor, Ruby Production, dan studionya dari Rumah Makan Siantanur. Syahdan, walau hampir semua barang yang ada distudio adalah barang bekas tapi cukup lumayan lah, setidak-tidaknya cukup memadai untuk dijadikan sebagai salah satu tempat tongkrongan alternatif.
Baca Selengkapnya...

24 November 2009

RIBUAN PELAMAR CPNS PADATI KOTA TAREMPA

Lebih dari 1000 penumpang KM Bukit Raya dari Tanjung Pinang pada Minggu 22 November kemarin turun ke Tarempa, ibukota kabupaten Kepulauan Anambas. Kondisi ini tentu saja membuat pelabuhan Tarempa yang sedang dalam proses pelebaran itu tampak sesak dengan penumpang. Mayoritas penumpang kapal yang turun ke kota ini diduga adalah untuk mengikuti test CPNS pemerintah kabupaten Kepulauan Anambas.

Tak hanya KM. Bukit Raya yang kelimpahan penumpang, dua buah kapal Perintis baik yang dari Tanjung Pinang maupun yang dari Natuna yang singgah ke Tarempa beberapa hari sebelumnya juga dikabarkan banyak mengangkut calon pelamar CPNS, hal serupa juga terjadi pada pesawat Air Lines.

Banyaknya jumlah pelamar CPNS yang datang ke Tarempa membuat seluruh hotel dan penginapan penuh, dan diantaranya banyak yang sudah di booking sejak jauh hari. Tak hanya hotel dan penginapan, sejumlah warga lokal juga banyak yang menjadi pemiliki kost dadakan, hal ini tentu saja sangat membantu pendatang yang sebelumnya sempat terlantar karena tak berhasil mendapatkan tempat bermalam.

Tahun ini Anambas memang membuka pendaftaran CPNS paling banyak se-provinsi Kepulauan Riau, dan merupakan satu-satunya kabupaten di Kepri yang membuka lowongan bagi lulusan SMK. Kabupaten Kepulauan Anambas yang dimekarkan dari kabupaten Natuna setahun silam itu membuka 654 lowongan CPNS untuk ditempatkan di berbagai kantor pemerintahan setempat.

Sementara itu pendaftaran CPNS yang
telah dibuka sejak 31 Oktober 2009 lalu dan ditutup pada 14 November 2009 itu manarik cukup banyak peminat, tak kurang dari 3500an pelamar, namun hanya sekira 2000an lebih yang dinyatakan lulus seleksi administrasi. Mereka yang lulus seleksi administrasi sejak Senin 23 November kemarin tampak padat mengantri di gedung BPMS yang terletak di jalan Hang Tuah Tarempa untuk melakukan pendafataran ulang, sedang untuk test tertulis rencananya akan dilakukan pada Rabu 25 November 2009 besok.
Baca Selengkapnya...

09 November 2009

“MENYULAP” PADANG MELANG MENJADI BALI

Judul diatas saya kutip dari sebuah news article yang di publish Detik Bandung dot com pada Mei 2009 silam. Dalam artikel tersebut Detik mewartakan perihal kompetisi mahasiswa wirausaha yang diikuti oleh rekan saya Efrizal, anak jati Anambas yang sedang studi di salah satu sekolah tinggi ilmu ekonomi di Bandung. Dalam kompetisi tersebut Efrizal berimajinasi ilmiah tentang bagaimana mengubah pantai Padang Melang (baca: pantai-pantai di Anambas) yang tidak terawat menjadi seperti pantai-pantai di Bali. Lengkap dengan deskripsi kondisi alam, rancangan bisnis penginapan dan travel, serta analisis produk-produk pariwisata yang akan dijual berikut segmen marketnya. Syahdan, rancangan tersebut mengantar Efrizal sebagai pemenang ketiga dalam kompetisi itu.

Bali Punya Kuta, Anambas Punya Melang
Pariwisata di Bali memang luar biasa, setiap tahun sekitar empat juta wisatawan asing berkunjung kesini, belum lagi wisatawan domestiknya. Tak heran jika Pulau Bali dipilih menjadi pulau tujuan wisata terbaik pada tahun 2009 versi majalah Travel Leisure, mengungguli Pulau Galapagos, Pulau Cape Breton, Kauai dan Mount Desert Island, Maine. Sektor pariwisata di Bali juga mendatangkan devisa yang sangat besar sekitar 2,5 miliar dolar AS atau Rp 26 triliun per tahun, juga memberikan sumbangan terhadap PAD yang tak terbilang kecil. Sebut saja Badung, salah satu kabupaten di Bali mendapat sekitar Rp 500 miliar hanya dari pajak hotel dan restoran. Semua itu tentu saja belum termasuk efek berganda (multiplying effect) bagi perputaran ekonomi lokal.

Adakah cuma Bali yang eksotik dengan panoramanya. Kawan saya diatas bukan sedang mengada. Sebenarnya kepulauan Anambas juga tak kalah indah. Bila di Bali ada pantai Kuta, Jimbaran dan Tanjung Benoa, di Anambas punya Padang Melang, Temawan, dan Tanjung Momong. Di Bali ada Sanur yang menggoda penyuka snorkeling dan diving, di Anambas ada pulau Bawah. Jika di Bali ada pura Tanah Lot yang terletak di atas bongkahan batu karang di tepi samudra Hindia, Anambas juga punya Vihara Gunung Dewa Siantan yang dibangun kokoh menjulang diatas bebatuan yang menghadap laut China Selatan. Di Bali ada pulau Serangan yang oleh turis asing lazim dipanggil Turtles Island, di kita ada pulau Durai. Di Bali ada tarian beralur cerita seperti Barong dan Kecak Anambas punya Mendu dan Gobang. Di Bali ada gamelan, kita punya Gendang Siantan. Air terjun Gitgit, Melanting, dan Nungnung adalah kebanggaan warga Bali. Air terjun Temburun, Niraja, dan air terjun Air Bini adalah kepunyaan kita.

Public Policy di Balik Keunggulan Bali.
Memang tak adil membandingkan wisata Bali yang sudah bertahun-tahun dikembangkan secara professional dengan kepulauan Anambas yang baru saja menjadi daerah otonom sejak setahun lalu. Namun menjadikan Bali sebagai referensi pengembangan pariwisata kita amatlah reaslistik dan visioner.

Sepekan berpetualang sebagai backpacker di pulau Dewata itu memberi saya informasi yang berharga bagi sebuah short analysis tentang kebijakan pariwisata kita. Hemat saya setidaknya ada empat hal pokok yang menjadikan pariwisata di Bali cukup sukses. Pertama, adalah komitmen pemerintah pusat dan pemerintah lokal untuk menjadikan sektor pariwisata di Bali sebagai sektor unggulan. Kesungguhan hati ini betul-betul dilaksanakan secara konsisten bukan sekadar lips services. Hal ini misalnya dapat dilihat dari komitmen menjaga kondisi tetap aman serta pembangunan dan pemeliharaan sarana publik terutama jalan, jembatan, pelabuhan laut serta udara.

Kedua, adalah investasi. Mustahil Bali bisa berkembang pesat tanpa mengandalkan investasi domestik maupun asing. Kita semua pasti sepakat bahwa investasi amat penting bagi urat nadi perekonomian diberbagai bidang tanpa terkecuali pada tourism sector, namun kondisi seperti di Bali baru bisa ditiru jika iklim investasi kita sehat. Jangan sampai harga tanah mendadak melonjak beratus-ratus kali lipat melebihi kemampuan menghitung dengan akal sehat, sewaktu akan ada pembebasan lahan untuk pembangunan sarana dan prasarana penunjang pariwisata

Ketiga, Usaha pariwisata adalah usaha yang terintegratif, semuanya saling bahu membahu. Jika di Bali ada hotel berbintang hasil investasi kapitalis asing, selalu ada ruang buat koperasi desa misalnya penyediaan sarana bermain, pusat jajanan, souvenir sampai jasa spa dan pijat tradisional. Jika pemerintah membangun taman budaya, maka masyarakatlah yang berperan mengelolanya. Kebijakan pariwisata di Bali adalah contoh yang baik bagi sinerginya ketiga domain governance; pemerintah, sektor privat, dan masyarakat.

Keempat, adalah promosi. Bali amat terkenal, saking terkenalnya seorang kenalan dari negeri Paman Sam pernah mengira Bali is the country, and Indonesia is a part of Bali. Namun dalam promosi yang menjadi tolak ukur hendaknya bukan output (keluaran) tetapi outcome (hasil). Promosi baru bisa kita anggap berhasil jika ada impact yang perkembangannya dapat diamati secara statistik. Sayangnya promosi pariwisata kita selama ini bertitik tekan hanya kepada output. Tak kalah penting dalam promosi pariwisata di Bali yang patut kita tiru adalah kemampuan empowerment serta memproduksi barang dan keunggulan lokal menjadi sesuatu yang patut dijual.

Melirik Anambas, tentu saja kita punya potensi yang sangat prospektif. Disinilah pemerintah Kepulauan Anambas kedepan dituntut memiliki wawasan kepariwisataan dan kemaritiman yang bersinergi dengan spirit kewirausahaan. Mudah-mudahan imajinasi ilmiah kawan saya diatas suatu masa kelak benar-benar menjadi fakta yang tak terbantahkan.

Sebelumnya telah di muat di Koran Umum Anambas Pos, edisi 7, November 2009.
Baca Selengkapnya...

07 November 2009

LIBURAN KE BALI ALA BACKPACKER

Siapa bilang liburan harus selalu dengan uang banyak. Jika anda punya niat berlibur ke suatu tempat namun kemampuan finansial anda amat terbatas, maka cara paling tepat mensiasatinya adalah dengan berlibur ala backpacker. Pengalaman inilah yang mau saya bagi lewat blogging kali ini sebagai hasil petualangan saya selama sepekan di pulau Bali.

Perjalanan ke Bali saya mulai dengan memesan tiket pesawat PP Jakarta-Denpasar-Jakarta, seharga Rp 824.000,-. (kalau beruntung bisa lebih murah, rajin-rajinlah mengecek situs reservasi online). Sampai di Bali, karena hari sudah sore, langsung saja saya bergegas mencari penginapan murah. Kebetulan dapatnya di daerah Bunisari tepat di depan jalan Legian kira-kira 5-10 menit dari Pantai Kuta (Di jalan Poppies juga banyak sekali penginapan murah, dimana tourist bermodal cekak biasa mangkal). Harga penginapannya Rp. 60.000,- permalam (fasilitas tempat tidur, kipas angin, dan toilet dalam kamar).

Untuk mempermudah petualangan selama di Bali saya pilih menggunakan kendaraan sepeda motor, lewat pemilik penginapan saya diantar ke sebuah jasa penyewaan sepeda motor di dekat jalan Kartika Plaza. Harga sewa motor Rp 50.000,- perhari. Usai menyewa motor saya langsung tancap gas ke pantai Kuta menikmati Sunset disana, kemudian keliling-keliling seputar jalan Legian hingga ke Denpasar. Makan malam pertama saya di Bali, saya coba untuk mencicipi ikan kakap goreng di sebuah warung makan lesehan. Satu kali santap cukup Rp. 15.000,- (kalau makan di warung biasa rata-rata saya menghabiskan Rp. 8000-10.000 sekali santap, (lumayan murah bukan?!!..)

Tak puas menikmati keindahan pantai Kuta dihari petama, pada hari kedua saya habiskan untuk kembali berlama-lama di pantai itu. Lelah berseluncur dengan body board (sewa body board Rp. 30.000,- harga nego) saya coba berjemur di tepian pantai sambil bercas cis cus dan berbagi cerita tentang kehidupan remaja dan anak kuliahan dengan dua orang backpacker dari Inggris, Anthony dan Christ. Oh ya, tariff berenang di pantai Kuta adalah Rp. 0,- alias free of charge. Usai berjemur saya coba terima tawaran penjaja tato temporary (ih..sesekali menghargai karya seni dengan cara yang agak nakal gpp kan), lumayan karena keahlian menawar saya berhasil dapat harga yang sangat miring, Rp. 50.000,- untuk dua gambar tato ukuran sedang. Usai bertato ria, saya coba melemaskan otot-otot yang agak tegang dengan cara menikmati pijatan ibu-ibu penjaja jasa pijat di pantai Kuta. Malam harinya saya putuskan untuk keliling kota Denpasar sambil singgah ke Supermaket untuk membeli beberapa botol air mineral dan snack.

Hari ketiga di Bali, saya mulai dengan menghadiri pertunjungan Tari Barong di Batubulan, kira-kira 45 km dari Kuta, tiket masuk pertunjukan Rp. 80.000,- Usai menikmati tarian Barong saya langsung melanjutkan perjalanan ke Utara yakni ke Goa Gajah. Sebuah Pura kuno yang pintu masuknya merupakan pahatan Batu Goa. Di sana juga terdapat beberapa peninggalan bersejarah lainnya seperti air mancur, reruntuhan patung Budha, dan lain-lain yang tentunya sudah berusia berabad-abad. Habis dari Goa Gajah, sebelum pulang ke Kuta saya sempatkan untuk mampir ke Pantai Sanur di Denpasar, duduk beberapa saat ditepian sebuah dermaga kecil sambil menikmat suara dentuman air hasil kreasi bocah-bocah pantai yang terjun bebas menikmati keindahan alam. Sehabis dari Sanur, saya langsung kembali ke penginapan di Kuta…uppss mampir lagi di sebuah toko penyedia oleh-oleh khas Bali yang terletak di jalan Raya Kuta untuk membeli beberapa bingkisan sekadar kenang-kenangan buat teman-teman dan keluarga.

Hari keempat di pulau Dewata saya manfaatkan untuk menelusuri kawasan Uluwatu, (kira-kira 30-40 km dari Kuta) apalagi kalau bukan buat berenang merasakan hawa air laut yang agak hangat di kawasan Dream Land. Panorama di Dreamland benar-benar membuat saya takjub dan terkagum-kagum. Pantai yang putih bersih berada dalam lindungan bongkahan-bongkahan batu dan tebing yang curam. Nun beberapa meter di tengah laut para surfer asyik masygul menari-nari di atas ombak. Sementara mereka yang lelah berkabung dengan air asin tanpak pasrah di bawah tabir surya persis di celah bongkahan-bongkahan batu amat sangat besar yang arsitekturnya meliuk-liuk bak studio di cinema 21. Semasa berenang di Dreamland, saya tak mau melewatkan kesempatan untuk menguji kemampuan saya berbahasa Inggris dengan beberapa orang asing yang tentu belum pernah saya temui sebelumnya. (Oh ya, masuk ke Dreamland juga free hanya tariff parkir bagi anda yang bawa kendaraan). Usai dari dreamland saya arahkan kemudi sepeda motor sewaan menuju Pura Uluwatu menikmati sunset view. Beberapa saat kemudian cak…cak…cak…teriakan suara penari kecak memanggil saya. Bak turis yang penuh antusiasme saya duduk di barisan paling depan dari bangku bertingkat yang disediakan penyuguh acara. Tarif masuk pertunjukan Rp. 50.000,-

Rencana saya dihari berikutnya tak lain adalah mencoba permainan parasailing dan jet sky. Tanjung Benoa adalah target saya dihari itu dengan terlebih dahulu mampir ke pantai Jimbaran untuk sekadar melihat-lihat. Untuk mencoba permainan parasailing dan jet sky saya harus merogoh saku Rp. 250.000,- tetapi kepuasan yang didapat benar-benar terbayarkan. Lewat parasailing kita dapat menikmati keindahan panorama laut dari atas, sungguh luar biasa. Belum lagi tiupan angin yang menerpa kencang tubuh kita di ketinggian membuat tubuh ini terbang ringan.. plong… tak terkira… bak elang yang pulang tenang dari mencari mangsa. Sedang bermain jet sky walau hanya sekira 15 menit tak ubahnya seperti berkendara bebas di lautan lepas, sungguh-sungguh menakjubkan. Usai bermain Jet Sky saya sempatkan untuk melintas pelan di kawasan Universitas Udayana, sebuah perguruan tinggi terkemuka di Bali bahkan di Indonesia bagian Tengah. Puas melihat-lihat kawasan kampus saya langsung meluncur ke Garuda Wisnu Kencana (GWK) sebuah taman budaya yang sangat luas. Disana sedang dibangun patung raksasa berbentuk Dewa Wisnu yang sedang mengendarai seekor burung Garuda. Konon patung tersebut akan jadi Landmark pulau Bali dimasa mendatang. Di GWK saya sempatkan pula untuk menyaksikan Tari Kecak Kreasi setelah sebelumnya menikmati Es Doger dan cemilan sekadarnya. Tarif masuk GWK Cuma Rp. 20.000 sudah include macam ragam persembahan musik dan tarian tradisional.

Dua hari menjelang kepulangan saya ke Jakarta, saya manfaatkan untuk mengunjungi Pura Tanah Lot (kira-kira 30 km dari Kuta) sebuah Pura tua yang terletak diatas bongkahan karang ditengan laut yang persis menghadap Lautan Hindia ( tiket masuk kawasan wisata Tanah Lot Rp 10.000,)Pemandangan di Tanah Lot tak kalah dengan pemandangan di Uluwatu. Di Tanah Lot saya bertemu dengan sesama backpacker, Anne dari Amerika dan Alessio yang asal Itali. Merasa senasib sesama backpacker kami habiskan waktu bersama di Tanah Lot sambil menikmati suasana sunset. Panorama matahari terbenam disana tampak jelas nyaris tak tertutup awan, wajah mentari yang merah kekuning-kuningan tanpak mengintip malu-malu di tengah samudra Hindia kemudian bersembunyi dibalik selubung biru sampai keesokan hari. Puas memandang panorama matahari terbenam dari sebuah café diatas pelataran bukit di Tanah Lot, atas ajakan Anne yang sudah dua pekan di Bali saya dan Alessio langsung menuju ke pantai Echo, dinner bareng di restoran Echo Beach, sambil menikmati hentakan musik improvisasi seorang DJ dan angin sepoi-sepoi tepat dari bibir pantai di depan restoran. (tarif makan di restoran yang hampir semuanya diisi orang asing itu juga lumayan murah, kisaran Rp. 40.000- 80.000,-/ porsi tergantung jenis makanan yang kita pesan). Dari Anne dan Alessio saya banyak menimba informasi tentang pengalaman mereka berbackpacking ria di beberapa Negara. Usai dinner di Echo Beach badan saya terasa pegel-pegel, agaknya mencoba Baliness traditional massages adalah pilihan yang tak salah. Sebelum pulang ke penginapan saya putuskan untuk mampir ke salah satu penyedia jasa pijat di dekat Jln. Pantai Kuta, tarifnya lumayan murah hanya Rp. 45.000,- per hour.

Bali benar-benar pulau yang memikat setiap pengunjung. Tak terasa sudah sepekan saya di pulau itu. Di hari terkahir ini tak ada lagi yang dapat menghalang saya dari niat untuk merasakan deburan ombak diatas papan surfing di pantai Kuta. Tarif sewa surfing board adalah Rp. 50.000,- (harga nego). Meski awalnya agak kesulitan tapi berkat curi-curi ilmu dari para pemain disekitar, saya berhasil menaklukkan papan seluncur gelombang itu. Puas berseluncur dengan papan surfing saya coba sekali lagi berjemur ala turis asing sambil memandang keeksotikan alam pulau dewata. Empat jam sebelum keberangkatan saya sempatkan untuk mampir ke pusat jajanan Joger yang terkenal dengan pabrik kata-katanya. Tak terasa uang 300 ribuan ludes dengan sekejap untuk shopping oleh-oleh dan kenang-kenangan pribadi. Sebelum terbang ke Jakarta, saya masih punya waktu sekira 2 jam di Bandara Ngurah Rai, habis memeriksa laman di situs Facebook saya manfaatkan untuk kembali bercas cis cus dengan seorang madam Australia, maaf namanya saya lupa. Saling berbagi cerita tentang pengalaman traveling, membuat saya hampir lupa dengan jadwal keberangkatan, untung panggilan dari operator bandara agar penumpang segera boarding cukup keras. Habislah masa liburan saya di pulau Bali. Lets fly, Good Bye Bali, Good bye the heaven of backpackers, I miss U always…
Baca Selengkapnya...

25 Oktober 2009

SILATURRAHMI DENGAN WAKIL BUPATI NATUNA

Minggu, 18 Oktober pekan lalu mahasiswa Anambas di Bandung mendapat kunjungan istimewa. Raja Amirullah, anak jati Anambas yang saat ini menjabat Wakil Bupati Natuna datang ke Pondokan Putra Datuk Dewa Perkasa yang merupakan sekretariat Keluarga Pelajar Mahasiswa Anambas (KPMA) Bandung. Amir yang datang bersama dua orang staffnya itu mengaku bahwa kehadirannya atas ajakan dari Matari Yasinullah HS, ketua KPMA saat ini. Kunjungan tersebut adalah kali pertama bagi pejabat eksekutif kabupaten Natuna ke asrama mahasiswa Anambas di Bandung pasca pemisahan daerah tersebut dari Natuna.

Namun demikian Amir menegaskan kunjungannya ke asrama mahasiswa Anambas bukan dalam kapasitasnya sebagai wakil Bupati, tetapi hanya sebagai tokoh masyarakat Anambas yang dulu juga pernah menempuh studinya di Bandung. Amir juga menyangkal jika ada yang menyebut silaturrahminya dengan mahasiswa Anambas sebagai kampanye politik jelang Pilkada Anambas tahun depan. Penyandang gelar apoteker itu memang belakangan disebut-sebut sebagai salah satu tokoh yang bakal maju dalam Pilkada Anambas.

Dalam silaturrahmi yang berlangsung sekitar setengah jam itu, Raja Amir berpenampilan cukup santai, ia bahkan berkali-kali tertawa terbahak mengenang masa suatu ia kuliah di Bandung dulu. Ia juga berkali-kali lewat gurauan segar khas masyarakat Melayu Anambas menyinyir kebiasaan-kebiasaan warga Anambas dalam pergaulan sehari-hari. Guyonan Amir yang begitu lepas itupun di sambut tawa sekitar 25 mahasiswa/i yang hadir, seolah tak ada jarak diantara mereka dengan seorang pejabat daerah.

Amir yang sempat menitipkan bantuan sekadarnya kepada mahasiswa Anambas mengajak para mahasiswa bersyukur karena telah diberikan kemudahan fasilitas asrama oleh Pemda setempat. Ia sempat pula menyatakan kekagumannya akan solidarirtas para mahasiswa Anambas, dan berpesan agar mahasiswa sesekali perlu membuat telaahan akademik tentang pembangunan Anambas kedepan.

Kunjungan Amir ke Jawa sebenarnya adalah dalam rangka meresmikan asrama mahasiswa Natuna di Bandung yang berjarak sekitar 3 km dari asrama mahasiswa Anambas. Usai bertemu mahasiswa Anambas Amir segera meluncur ke Jakarta guna menjenguk Bupati Natuna Daeng Rusnadi yang baru saja ditahan KPK beberapa hari sebelumnya.
Baca Selengkapnya...

19 Oktober 2009

AMAT YANI TANDANGI MARKAS MAHASISWA ANAMBAS

Jum'at 16 Oktober 2009 kemarin, anggota DPRD Natuna dari Dapil Anambas yang juga bakal calon ketua DPRD Anambas, Amat Yani bertandang ke kediaman pelajar dan mahasiswa Anambas di Bandung, pondokan Putra Datuk Dewa Perkasa. Amat datang bersama Sekjen Badan Pembentukan dan Penyelaras Kabupaten Kepulauan Anambas (BP2KKA) Wann Saros, dan sejumlah tokoh BP2KKA lainnya Erwin dan Syahril.

Dalam silaturahmi tersebut Amat menuturkan bahwa mahasiswa Anambas sebagai kaum intelektual muda perlu terlibat dalam proses pembangunan di Anambas diantaranya melalui kontribusi pewacanaan dan pemikiran terhadap arah pembangunan Anambas kedepan. Amat juga mengingatkan perlunya mahasiswa bersinergi dengan pemerintah daerah, untuk itu ia meminta para mahasiswa agar tidak segan-segan menyampaikan aspirasi kepada dirinya. Amat juga menekankan bahwa sesekali ide-ide tentang pembangunan Anambas agar bisa dikomunikasikan dengan pejabat di daerah, termasuk kemungkinan memanfaatkan media massa lokal.

Sedang Wann Saros yang juga menekankan hal senada, menambahkan bahwa tokoh-tokoh muda memiliki kelebihan tersendiri bilamana berdialog dengan mahasiswa. Jarak usia yang tak terlalu jauh memungkinkan mereka dapat lebih komunikatif. Sehingga apa yang ingin di disampaikan dapat ditanggapi secara lebih responsif. Wann juga sempat berdiskusi tentang perjalanan kabupaten Kepulauan Anambas setahun ini dan rencana Pilkada tahun depan. Ia secara lugas menginginkan agar yang berkompetisi nanti adalah putra-putra lokal terbaik Anambas, sehingga siapapun yang menang berarti juga adalah kemenangan sesama saudara.

Matari Yasinullah HS yang saat ini menjabat sebagai ketua Keluarga Pelajar Mahasiswa Anambas (KPMA) Bandung, sekaligus Sekjen Forum Komunikasi Mahasiswa Anambas Se-Indonesia sempat pula menuturkan tentang harapan-harapan mahasiswa kepada Amat Yani tentang persoalan di Anambas dewasa ini semisal mengenai listrik dan ketenagakerjaan. Ia juga menyinggung soal kebutuhan mahasiswa Anambas tentang pengadaan asrama permanen agar bisa direalisasikan, jika memang nanti keadaan keuangan pemerintah Kepulauan Anambas telah memungkinkan untuk itu.

Silaturahmi yang berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam itu berlangsung sangat akrab dan penuh suasana kekeluargaan dengan dihadiri oleh sekitar 15 orang anggota KPMA dari sekira 60 anggota. Sebelum meninggalkan pondokan Putra, Amat sempat pula berpesan agar mahasiswa lebih giat dalm menuntut ilmu sambil memberikan bantuan sekadarnya kepada pengurus KPMA Bandung.
Baca Selengkapnya...

17 Oktober 2009

70 MAHASISWA KEPRI DI BANDUNG TERIMA BEASISWA

Sebanyak 70 orang mahasiswa asal Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) di Bandung menerima beasiswa dari Pemerintah Provinsi Kepri. Penyerahan beasiswa tersebut dilakukan berbarengan dengan acara halal bilhalal dan silaturrahmi warga Bandung asal Kepri dengan Gubernur Kepri Ismeth Abdullah pada Kamis 15 Juli 2009 lalu.

Dalam perhelatan yang berlangsung cukup meriah itu, turut hadir pula Aida Ismeth Abdullah anggota DPD asal provinsi Kepri, Nur Syafriadi ketua DPRD Provinsi Kepri, dan sejumlah jajaran pemerintahan provinsi Kepulauan Riau.

Program beasiswa yang dibagikan Pemrov Kepri tersebut merupakan program beasiswa yang diadakan setiap tahunnya sejak tiga tahun lalu. Namun selama dua tahun belakangan ini guna memudahkan penyeleksian bagi calon penerima beasiswa, Pemrov Kepri bekerja sama dengan warga Bandung asal Kepri yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Provinsi Kepulauan Riau (IKPKR) Bandung.

Drg. Sufiyar, ketua umum IKPKR menuturkan bahwa dalam penyeleksian tersebut ditemukan beberapa mahasiswa yang terbukti menyampaikan data secara tidak benar semisal melakukan mark up nilai. Untuk itu tim penyeleksi IKPKR terpaksa melakukan verikasi di kampus masing-masing pemohon.

Pada tahun 2009 ini tak kurang dari 70 mahasiswa asal Kepri dari berbagai jenjang pendidikan yang menerima beasiswa. Adapun nominal yang diterima untuk mahasiswa dari program D3 Rp 3.000.000,- tiap mahasiswa, sedang untuk jenjang S1 menerima Rp 3.500.000,- , dan Rp. 4.000.000,- untuk mahasiswa program S2.
Baca Selengkapnya...

11 Oktober 2009

SEKTOR SWASTA DI ANAMBAS MULAI BERGELIAT

Setahun pasca pembentukan kabupaten Kepulauan Anambas, sektor swasta disini mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan. Jika pemerintah setempat kerap kalang kabut karena dana APBD yang terlambat cair, maka tak demikian dengan pelaku usaha disini. Para pengusaha lokal tampak sigap membangunkan denyut nadi perekonomian meski penuh dengan berbagai keterbatasan.

Sektor yang mulai nampak ramai dilirik pengusaha lokal diantaranya adalah hotel dan penginapan. Saat ini di Tarempa, ibukota kabupaten Kepulauan Anambas sudah tersedia bermacam hotel dengan fasilitas yang beragam mulai dari kelas penginapan biasa yang tarifnya 100-120 ribu Rupiah permalam, sampai yang kelas delux yang seharinya bisa mencapai 450 ribu Rupiah. Selain hotel sejumlah usaha kos-kosan dan rumah sewa juga mulai menjamur.

Kondisi kota Tarempa saat ini tampak semakin padat, seiring banyaknya bangunan beton bertingkat yang baru, mulai dari Ruko sampai rumah tinggal. Memang sejak lama Tarempa memiliki keterbatasan rumah tinggal dan tempat usaha, sehingga mengakibatkan harga-harga sewa rumah maupun toko meningkat tajam. Namun rencananya dalam waktu dekat di kawasan Batu Tambun akan dibangun Perumahan Legenda Siantan yang untuk tahap awal mencapai 120 unit rumah dengan berbagai tipe.

Selain rumah, berbagai industri kecil dan menengah juga mulai bergeliat. Industri pembuatan bata merah dan batako misalnya mulai kebanjiran pesanan, bahkan karena tingginya permintaan akan bata merah dan batako sedang produksi mereka belum dapat memenuhi semua permintaan warga, akibatnya sejumlah bata terpaksa didatangkan dari luar Anambas.

Selain itu jumlah kendaraan bermotor di Anambas juga menunjukkan penambahan yang berarti hingga lalu lintas di kota Tarempa tampak padat dan mulai semrawut.

Tak hanya investasi lokal, pengusaha dari luar Tarempa juga mulai tertarik dengan kabupaten ini, beberapa waktu lalu mantan ketua DPR-RI, Agung Laksono sempat mengunjungi Anambas sembari ditemani sejumlah investor dari Malaysia. Mareka, para investor itu tertarik dengan kondisi pulau-pulau dan laut Anambas yang mempunyai pemandangan sangat indah.

Namun sayangnya seperti juga lazim terjadi di banyak daerah di Indonesia, persoalan listrik masih menjadi kendala. Banyaknya warga yang mengeluhkannya, karena bukan saja menghambat aktivitas pembangunan fisik yang mulai tumbuh tetapi juga kerap menimbulkan kerugian pada macam aktivitas ekonomi yang sudah ada.
Baca Selengkapnya...

10 Oktober 2009

PARTISIPASI DAN URGENSI KETERSEDIAAN PUBLIC SPHERE BAGI DAERAH OTONOM BARU

Upaya membentuk pemerintahan yang partisipatif telah menjadi suatu cita-cita besar dalam reformasi pelayanan publik di Indonesia sejak satu dekade silam. World Bank mengidentikasikan partisipasi sebagai salah satu prinsip yang harus ditaati guna mencapai apa yang mereka namai good governance. Menurut Agustino (2006) asumsi yang mendasari pentingnya partisipasi publik tidak lain adalah karena yang paling tahu tentang apa yang diperlukan publik adalah publik itu sendiri. Selain itu menurutnya partisipasi publik juga menjadi ciri utama dalam konsep human-centered development. Oleh karenanya tak heran jika Utomo (2007) menegaskan bahwa esensi otonomi daerah adalah apalagi kalau bukan hendak merubah warga government yang bertitik tekan pada otoritas kepada governance yang bertitik tekan pada interaksi (civil society, privat sector, dan pemerintah).

Namun demikian dalam banyak kasus di daerah otonom baru, partisipasi publik menjadi hal yang langka. Publik lebih banyak dalam posisi menunggu tindakan aparatur pemerintah ketimbang bersama-sama menjadi pemrakarsa bagi pemecahan macam ragam persoalan publik yang sedang dihadapi. Rendahnya partisipasi pada daerah mekaran baru ternyata bukan disebabkan skeptisisme dan apatisme publik tetapi seringkali justru karena ketiadaan ruang publik (public sphere) yang memunginkan publik bebas menyampaikan gagasan, ide bahkan kritik dalam suatu proses interaksi berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Lalu, bagaimana dengan prospek partisipasi dan ketersediaan public sphere di kepulauan Anambas?

Partisipasi Pada Priode Advokasi Pembentukan KKA

Jika ditilik kembali kontribusi warga masyarakat dalam proses advokasi kabupaten Kepulauan Anambas, maka rumusan yang adil adalah dengan mengatakan bahwa peranan masyarakat amat kontributif. Anambas tidak lahir dari gang-gang sempit yang didominasi dari sekelompok elit, tetapi lahir dari suatu keresahan sosial yang menyeluruh dalam berbagai aspek kehidupan publik. Elit kemudian menginterpretasikannya dalam gerakan advokasi yang terencana dengan partisipasi penuh dari publik yang nyaris tanpa motivasi materi. Setidaknya hal inilah yang penulis temui dari hasil penelitian tesis tentang peranan masyarakat dalam advokasi kebijakan pemekaran Anambas yang baru saja diselesaikan beberapa waktu lalu.

Tentu bukan kali yang tepat untuk menguraikannya secara holistik dan terfokus. Tetapi message yang ingin dipetik adalah kereleaan publik untuk berbuat pada priode advokasi pembentukan Anambas adalah suatu modal sosial yang dapat dikonversikan dalam bentuk partisipasi publik yang lebih konstruktif pada masa sekarang dan masa-masa yang akan datang. Baik partisipasi yang muncul dalam ranah proses kebijakan, kontrol sosial, dukungan finansial dalam bentuk pajak dan retribusi, maupun upaya-upaya dalam menemukan alternatif kebijakan bagi segenap permasalahan publik yang paling riskan sedang dihadapi masyarakat Anambas hari ini semisal listrik dan air bersih.

Pentingnya Ketersediaan Ruang Publik
Ihwal ketersediaan public sphere tentu menjadi amat penting untuk mengakomodasi suara publik. Ketiga domain governance (civil society, privat sector, dan pemerintah) memiliki tanggung jawab yang sama untuk menghadirkan ruang publik. Asril Masbah misalnya lewat media Anambas Pos telah memulainya secara elegan. Walau independensi dan perbaikan sistem distribusinya masih harus kita nantikan bersama.

Selain media cetak, hemat penulis ruang publik yang sesuai dengan geografis Anambas adalah radio lokal. Media yang satu ini relatif murah tetapi mampu bergerak secara cepat. Lewat gelombang elektromagnetik, radio memungkinkan suara publik di sebuah desa terpencil dapat didengar oleh pejabat pemerintahan yang tentu memiliki keterbatasan daya untuk menjangkau seluruh pulau setiap harinya.

Radio juga memungkinkan pihak-pihak terkait non pemerintah terbantukan lewat informasi yang diberikan publik. Pengalaman Radio Magarita di Bandung, Jawa Barat lewat unit BURAS (Back Up Room Rapidity Approaching Sources)nya yang berfungsi sebagai unit gerak cepat untuk melaporkan kejadian di lapangan dan kemudian menghubungi pihak yang terkait dan bertanggungjawab dalam menyelesaikan masalah agaknya dapat dijadikan contoh. Tak hanya publik pemerintah daerahpun akan terbantukan dalam rangka mengoptimalkan impelementasi program-program sarat partisipasi, semisal program keluarga berencana, pemungutan pajak tertentu, penjagaan kebersihan lingkungan laut, dan lain sebagainya.

Tool lainnya yang sesuai untuk diaplikasikan di wilayah Anambas yang notabene penduduknya terpencar-pencar dalam banyak pulau adalah pemanfaatan media bebas hambatan (internet). Website yang digagas pemerintah di banyak daerah terbukti sangat efektif tidak hanya bagi kepentingan untuk menyerap keluh kesah publik tetapi juga memperpendek rantai birokrasi. Pemkab Kepulauan Anambas sebenarnya jauh hari telah menautkan eksistensinya di dunia maya lewat situs anambaskab.go.id, sayangnya situs tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Bahkan updating-nya masih jauh kalah dibanding blog-blog pribadi yang ditulis warga dan mahasiswa-mahasiswa Anambas di perantauan.

Tak kalah penting adalah media konvensional seperti forum warga juga layak ditumbuhkembangkan terutama di desa-desa. Forum warga memungkinkan berbagai komunitas dan kepentingan duduk satu atap untuk satu tujuan yang sama yakni mencari penyelesaian bagi persoalan-persoalan publik kontemporer. Pemerintah disini bukan pihak yang mendiktekan ide atau sebaliknya pihak yang terhakimi atas berbagai problematika publik, tetapi pemerintah adalah bagian dari publik itu sendiri.

Akhirnya, kita tentu bersepakat sebagaimana juga telah ditasbihkan peraturan perundang-undangan bahwa kebijakan otonomi daerah secara substansial diarahkan untuk mempercepat kesejahteraan masyarakat yang diantaranya dicapai melalui peningkatan peran serta masyarakat (baca: partisipasi). Sedang partisipasi publik hanya mungkin eksis jika ruang untuk berpartisipasi secara demokratis, akomodatif dan responsif juga eksis.

Betapapun upaya membangun public awareness atau dalam istilah Bung Hatta disebut keinsyafan rakyat yang diantaranya dapat dicapai melalui penyediaan ruang publik tidak boleh luput dari perhatian kita semua (terutama pemerintah daerah) ditengah-tengah derasnya pembangunan sarana dan prasarana fisik di kabupaten yang amat kita cintai ini. Semoga..

Sebelumnya telah dimuat di Koran Umum Anambas Pos, edisi Oktober 2009.
Baca Selengkapnya...

11 September 2009

NGABUBURIT ALA WARGA TEREMPA

Jika di kota-kota besar warga masyarakat umumnya menghabiskan waktu jelang buka puasa di mall-mall dan pusat perbelanjaan, maka tak demikian dengan warga Terempa, ibukota kabupaten Kepulauan Anambas. Kota sepelemparan batu yang berpenduduk kurang dari 10 ribu jiwa itu memiliki keindahan panorama laut, hingga tak heran warga disini biasa ber-ngabuburit ria di kawasan sekitar laut.

Bagi sejumlah orang yang gemar memancing, pelabuhan Pemda adalah tempat favorite. Lokasinya yang tak jauh dari rumah penduduk memungkinkan warga bisa bersantai disini tanpa harus takut didera kemacetan lalu lintas hingga terancam tak dapat buka puasa dirumah. Sebagian warga kadang juga menikmati semilir angin sepoy-sepoy dipinggir pelabuhan sambil mendengarkan alunan musik Cina dari stasiun radio yang asalnya entahnya dari mana mungkin dari Cina daratan atau Singapura.

Kalau para remaja tempat favorit mereka apalagi kalau bukan di SP alias Semen Panjang. Sebuah jembatan semen yang dibangun di tepi pantai sejak 10 tahun silam namun tak kunjung selesai hingga hari ini. Sebenarnya tak ada yang menarik di SP kecuali fanorama desiran gelombang yang kadang menjerit pelan ketika terhempas ditepian karang. Sementara cahaya kuning keemasan mengintip malu-malu dari balik bukit di seberang SP. Keunikan lainnya barangkali karena warga yang ngabuburit disini bisa bertemu dengan kerabat dan warga kota Terempa lainnya, silaturahmi itu bahasa afdholnya.

Bagi yang ingin sesekali berbuka puasa diluar rumah, disekitar SP juga terdapat dua buah rumah makan yakni Siantanur dan Café Laluna, yang boleh dibilang bertaraf kota besar. Macam ragam makanan domestik dan impor boleh dilahap disini.

Ngabuburit biasanya berlangsung sampai suara mengaji di Masjid raya terdengar syahdu. Beberapa waktu kemudian seorang petugas di Masjid akan memberi sinyal “Siapkan Karbet”, tak berapa lama suara sirine disusul dentuman keras ibarat meriam jaman perang 45 pun bersaut-saut di kota Terempa. Bagi anda yang belum mengenal tradisi Ramadhan disini jangan panik itu bukan bom, tapi tanda waktu berbuka puasa telah tiba...
Baca Selengkapnya...

LISTRIK KERAP MATI, BISA HAMBAT INVESTASI DI KKA

Sudah beberapa bulan ini persoalan listrik mati di Terempa, ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas (KKA) belum juga menemui titik penyelesaiannya. Padahal listrik merupakan salah satu kebutuhan mendasar yang mutlak diperlukan guna memuluskan investasi swasta bagi menyerap lapangan pekerjaan dan ikut menggesa laju pembangunan di Anambas yang notabenenya merupakan daerah otonom baru.

Saat ini warga kota Terempa harus rela dengan keadaan listrik yang menyala 2: 1 alias dua malam menyala dan semalam gelap gulita. Tak hanya pada malam hari disiang hari pun listrik digilir 2: 1, itupun kadang diselingi dengan mati mendadak. Bahkan warga kampung Tanjung Tengah sempat beberapa minggu harus pasrah dengan pemadaman total akibat trafo PLN di wilayah mereka rusak.

Kondisi ini selain dapat menghambat investasi yang mana saat ini sangat dibutuhkan Anambas juga amat meresahkan warga. Banyak warga yang mengeluh karena peralatan elektronik mereka yang menjadi rusak karena listrik sering mati mendadak. Disamping itu pada malam hari warga Terempa juga terpaksa harus berdamai dengan bisingnya suara genset yang digunakan penduduk.

Beberapa waktu lalu sejumlah warga Terempa sempat berdemonstrasi karena tak tahan dengan kondisi demikian, apalagi PLN Ranting Terempa dinilai warga sudah kerap ingkar janji. Namun warga sempat menawarkan untuk menyelesaikan persoalan listrik secara bersama-sama, jika memang ada alat yang harus dibeli maka tak ada salahnya dibeli secara patungan.

Tak hanya listrik yang saat ini dikeluhkan warga Terempa tapi juga air. Untungnya persoalan tersebut sudah sedikit teratasi akibat hujan yang beberapa kali mendera kota Terempa, walau sebagian masyarakat terutama yang tinggal di kampung Tanjung dan dataran tinggi masih harus rela mengangkut air untuk kebutuhan sehari-hari mereka.

Kini Pemerintah kabupaten Kepulauan Anambas betul-betul didesak untuk menjadikan persoalan diatas sebagai prioritas masalah yang mesti dipecahkan dengan segera. Sebaliknya kita warga masyarakat juga sudah saatnya “melek lingkungan”, berhemat air, berhemat listrik adalah tanggungjawab kita bersama.
Baca Selengkapnya...

26 Agustus 2009

ANAMBAS POS, KORAN LOKAL PERDANA DI KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS

Setahun dibentuk sebagai daerah otonom, pembangunan di kabupaten Kepulauan Anambas terus menggeliat. Tak hanya infrastruktur fisik tetapi juga upaya untuk membangun public awareness terus digalakkan berbagai kalangan. Salah satunya adalah melalui penerbitan media lokal Anambas Pos.

Media yang digawangi oleh Asril Masbah (Pemimpin Redaksi) pada bulan Agustus ini sudah terbit untuk edisinya yang keempat, dengan jumlah halaman sebanyak 12 halaman. Berita-berita yang di ekspos sejauh ini memang lebih banyak tentang perkembangan di sekitar kabupaten Kepulauan Anambas dan provinsi Kepri umumnya. Sedang wilayah distribusinya selain tersebar di Terempa, Palmatak, dan Jemaja juga telah disitribusikan sampai ke ibukota provinsi Kepri, Tanjung Pinang.

Sekadar ilustrasi selama ini di wilayah Kepulauan Anambas yang berjarak sekitar 200 mil dari ibukota provinsi Kepri, Tanjung Pinang, sulit sekali ditemui media massa baik lokal maupun nasional. Bahkan koran Natuna Pos yang merupakan media kebanggaan masyarakat kabupaten induk Natuna tak sampai menjangkau wilayah ini. Jadi praktis tak ada bacaan informatif yang dapat menemani keseharian warga Anambas, kecuali koran-koran lama dari Singapura dan Batam yang dibeli para pedagang secara kiloan untuk membungkus dagangan mereka.

Keberadaan Anambas Pos tentu memberi warna baru dalam upaya memperluas ketersediaan public sphere di daerah ini yang mana selama ini luput dari perhatian swasta maupun pemerintah. Mudah-mudahan Anambas Pos dapat meningkatkan kualitas dan kuantitasnya, tetap independent dan benar-benar dapat menjadi referensi perubahan masyarakat Anambas sebagaimana melekat pada slogannya.
Baca Selengkapnya...

ANAMBAS AKAN REKRUT 654 CPNS

Guna mengisi kebutuhan pegawai dilingkungan pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas (KKA), rencananya tahun 2009 ini pemerintah setempat akan merekrut sebanyak 654 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Dari jumlah tersebut sebagaimana dilansir Anampos Pos, edisi Agustus 2009, akan dibuka sebanyak 181 lowongan untuk formasi guru, 339 untuk tenaga teknis, dan sisanya untuk tenaga kesehatan. Sementara untuk kualifikasi pendidikan calon pelamar yang akan diterima adalah minimum lulusan D2 dan SMK, sedang untuk SMA tidak dibuka.

Penerimaan CPNS di kepulauan Anambas tahun ini merupakan yang terbesar di provinsi Kepulauan Riau, hal ini dapat dimaklumi mengingat kebutuhan daerah tersebut pasca pembentukan KKA sebagai hasil pemekaran dari kabupaten Natuna pada 24 Juni tahun lalu.

Besarnya jumlah CPNS yang akan diterima, membuat masyarakat Anambas terutama para pencari kerja antusias untuk ikut melamar. Saat ini di Anambas warga masyarakat mulai asyik memperbincangkannya. Tidak hanya warga lokal, tetapi juga warga Anambas yang sudah lama menetap di luar daerah juga akan ikut berkompetisi untuk menjadi aparatur publik di daerah kaya Migas itu. Bahkan warga dari luar Kepri pun sepertinya juga akan banyak yang mengadu nasib di Anambas.

Namun sayangnya sejauh ini belum didapat kepastian kapan proses rekrutmen CPNS akan dibuka. Tapi menurut kabar yang beredar di masyarakat , perekrutan akan dibuka pada September atau Oktober mendatang.

Segenap masyarakat Anambas tentunya mengharapkan proses rekrutmen CPNS di Anambas nanti berlangsung dengan lancar dan fair, sehingga dapat mendorong percepatan pembangunan di daerah tersebut. Semoga.
Baca Selengkapnya...

14 Juli 2009

MENYERET GERBONG KETERTINGGALAN ANAMBAS

Beberapa waktu lalu masyarakat Anambas baru saja menggelar perhelatan untuk merayakan setahun terbentuknya kabupaten Kepulauan Anambas. Berbagai acara yang dilangsungkan dari tanggal 24-27 Juni itu terlaksana dengan penuh sahaja namun sarat makna. Selang beberapa hari kemudian Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Lukman Edi sebagaimana dilansir Sijori Mandiri 2 Juli 2009 menyatakan, bahwa Anambas bersama Natuna dan Lingga adalah kabupaten yang masih berada pada daftar daerah tertinggal dan merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah provinsi Kepulauan Riau. Sedang Kepri sendiri menurut Edi merupakan provinsi pemekaran yang berhasil sehingga dapat pula dikatakan sebagai sebagai provinsi pemekaran percontohan di Indonesia.

Masih menyandang status sebagai kabupaten tertinggal memang merupakan keprihatinan tersendiri yang harus disikapi dengan bijak, tetapi juga harus dilihat secara cermat. Khusus Anambas misalnya merupakan daerah otonom yang baru dibentuk pada 24 Juni tahun lalu sebagai hasil pemekaran dari kabupaten Natuna, sedang pemerintahannya baru efektif sejak September 2008, jadi belum genap setahun.

Dua Prasyarat Utama
Namun demikian, hemat penulis Anambas akan cepat meninggalkan statusnya sebagai daerah tertinggal dalam waktu lima tahun kedepan. Dua prasyarat utama yang harus segera dilakukan terhadap Anambas adalah pertama, segera menetapkan daerah tersebut sebagai kabupaten penghasil migas dengan segala kompensasinya. Jika berdasarkan asumsi besaran DBH Migas sebagaimana yang diterima kabupaten induk selama ini, maka sector tersebut akan menyumbang pemasukan hingga 90 persen lebih dari APBD Anambas setiap tahunnya, dengan kata lain tanpa DBH Migas sangat mustahil Anambas bisa mengakselerasi pembangunan dan beranjak dari ketertinggalan dalam waktu cepat. Menteri PDT meski tidak memiliki kewenangan secara langsung tapi tentu mempunyai kapasitas untuk ikut membantu memperjuangkan usaha masyarakat Anambas mendapatkan hak-haknya atas eksplorasi kekayaan alam di bumi Anambas.

Kedua, perlunya pemerintah daerah menekankan pembangunan inftrastruktur dan superstruktur fisik yang memiliki multiplying effect alias dampak berlipat berganda, yang untuk konteks Anambas dapat diidentifikasi sebagai pembangunan jalan lintas kecamatan dan desa, transportasi laut, pelabuhan laut, perumahan murah dan menengah, serta unit-unit pertokoan khususnya di Terempa dan Letung yang saat ini perniagaannya sedang bergeliat namun miskin sarana.

Pembangunan proyek-proyek tersebut akan meningkatkan mobilitas warga Anambas yang tersebar tidak di satu pulau, dan juga untuk memancing investasi sektor swasta baik lokal maupun regional. Meminjam logika Paul Rosentein dan Rodan (1957) high investment akan berdampak pada high employment yang kemudian berimplikasi pada high income mengakibatkan pertambahan high purchasing power dan akhirnya kembali berkontribusi pada high investment.

Anambas saat ini seperti sebuah lapangan sepak bola yang kosong dan gersang, tanpa rumput yang hijau dan fasilitas mumpuni orang-orang tidak akan mau bertanding disini. Jadi infrastruktur dan superstruktur fisik adalah kebutuhan yang paling mendesak dewasa ini. Pemerintah daerah dan pemerintah provinsi dari manapun sumber dananya asal dibenarkan undang-undang termasuk opsi melakukan pinjaman daerah harus melakukan big push terhadap hal ini. Dalam kajian keuangan negara Rostow dan Musgrave mengembangkan suatu model pengeluaran pemerintah yang pada intinya menyatakan bahwa pada tahap awal pemerintah perlu mengeluarkan investasi yang besar untuk menyediakan prasarana, tetapi pada tahap menengah meski investasi pemerintah tetap diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi namun pada tahap ini peranan investasi swasta sudah semakin membesar, sehingga ketergantungan pada pemerintah akan berkurang.

Lebih dari itu pada gilirannya modal besar yang dikeluarkan pemerintah tersebut akan terbayarkan melalui pajak dan retribusi seiring peningkatan income masyarakat. Tetapi yang harus diingat dalam waktu 5-10 tahun ini pemerintah daerah harus menghindari betul pembangunan berbagai proyek mercu suar yang megah nan mewah tetapi dampak bergandanya kecil dan minus horizontal equity antar wilayah/ pulau seperti pembangunan proyek Gerbang Utaraku sebagaimana yang pernah dilakukan kabupaten induk Natuna.

Sedang untuk jangka menengah dan panjang, sektor pendidikan adalah keharusan yang mutlak, putra-putri lokal harus diberikan kesempatan untuk mengeyam pendidikan tinggi dengan biaya dari pemerintah daerah. Industri perikanan dan pembangunan berbasiskan kelautan serta pariwisata maritim adalah bagian yang juga perlu direncanakan dengan matang dan harus menjadi sektor unggulan daripada usaha masyarakat tempatan, terutama untuk mengatasi habisnya sumber daya tak terbarukan (baca: Migas) dimasa mendatang.

Modal Sosial dan Realitas Daerah
Sekali lagi optimisme penulis akan kemampuan Anambas menyeret gerbong ketertinggalannya dalam waktu lima tahun bukan tidak beralasan. Anambas memiliki prakondisi lain yang amat kontributif bagi pembangunan. Dukungan masyarakat Anambas dalam priode advokasi pembentukan kabupaten ini yang diantaranya ditunjukkan dengan kesediaan untuk ikut menyumbang dana, tenaga, dan antusiasme yang tinggi dari level elit sampai level grass root merupakan modal sosial yang amat berarti bagi pembangunan daerah ini kedepan tentu jika hal tersebut berhasil dikonversikan dalam bentuk partisipasi politik publik baik dalam tataran local regulations process juga dalam konteks mengawasi pembangunan.

Namun bagaimanapun teknis caranya pemerintah setempat harus menginisiasi pengadaan ruang publik yang fair, demokratis, namun murah dan dapat disediakan dalam waktu singkat (seperti koran dan radio lokal) yang mana saat ini di Anambas masih nihil. Keberaadaan media lokal tersebut memberi kesempatan bagi publik Anambas yang sejak awal telah memiliki perhatian yang besar terhadap daerahnya kini di dorong untuk berpartisipasi aktif dalam politik dan pembangunan. Pada sisi lain media lokal tersebut juga memudahkan pemerintah daerah untuk mengkampanyekan program-program yang secara teknis membutuhkan partisipasi aktif dari publik, katakanlah misalnya program Keluarga Berencana, program menjaga Lingkungan Hidup khususnya konservasi laut dan isinya, program peningkatan kualitas kesehatan, serta keamaanan, kebersihan, dan ketertiban kota, dan lain sebagainya.

Keberadaan ruang publik amat penting karena pada banyak kasus daerah pemekaran baru minimnya peranan masyarakat dalam pembangunan dan proses kebijakan publik ditingkat lokal bukan karena apatisme dan fatalisme tetapi lebih karena ketiadaan ruang publik untuk berpartisipasi. Padahal yang menjadi ciri dari pemerintahan otonomi kata Warsito Utomo (2007) adalah reformasi dan perubahan warna government yang bertitik tekan pada otoritas kepada governance yang bertitik tekan pada interaksi di antara pemerintah (public), masyarakat (community) dan swasta (profit maupun sosial).

Disamping itu wilayah Anambas yang relatif lebih kecil dibanding kabupaten induk Natuna (hanya 33,15 persen dari keseluruhan wilayah Natuna sebelum pemekaran), serta jarak antar pulau di Anambas yang lebih dekat akan memberi kemudahan tersendiri dalam mengefektifkan pelayanan publik dan koordinasi pemerintahan.

Sedang jumlah penduduk yang sedikit (hanya 40 ribuan jiwa) dengan ikatan ginealogis yang cenderung homogen serta kualitas integrasi sosial yang cukup baik akan lebih memudahkan pemerintah dalam memberdayakan masyarakat. Potensi kemunculan social problems seperti kesenjangan sosial, anak jalanan, kemiskinan kota, pekerja seks komersial juga relatif kecil, sehingga pemerintahan tidak akan terlalu disibukkan dengan rantai permasalahan sosial tersebut, dan hal ini adalah indikator yang positif bagi Anambas untuk melangkah kedepan, meminjam slogan JK, lebih cepat dan lebih baik.

Dan yang paling terpenting adalah sistem rekrutmen pegawai pemerintahan yang bersih dari KKN, serta pelelangan proyek-proyek pembangunan yang fair terutama pada masa-masa awal ini adalah kunci dari keberhasilan pembangunan Anambas dan arah menuju implementasi prinsip-prinsip Good Governance dalam bingkai yang holistik. Kelak 5 tahun kedepan jika Lukman Edi (tentu bila ia masih terpilih sebagai menteri PDT) mengunjungi Anambas, ia akan berkata "Sekarang Anambas tak tertinggal lagi, tetapi mengarah pada kabupaten yang madani". Semoga....
Baca Selengkapnya...

10 Juli 2009

MEMBANGUN ORGANISASI KEDAERAHAN YANG INKLUSIF

Kebijakan otonomi daerah yang telah diberlakukan sejak satu dekade lalu memiliki implikasi yang luas dalam kehidupan masyarakat lokal. Desentralisasi yang berjalan seiring implementasi otonomi daerah tidak hanya berarti transfer of power dari pusat ke daerah namun juga memberi kesempatan yang luas bagi masyarakat (civil society) untuk mengaktualisasikan nilai-nilai lokal yang lama termarginalkan oleh Orde Baru. Realitas ini disatu sisi amat konstruktif, tapi pada sisi yang lain kerap pula bersenyawa dengan over etnosentrisme dan spirit kedaerahan yang melampau. Realitas inilah yang akhir-akhir ini juga menghinggapi sebagian dari mereka yang mengaku dirinya sebagai intelektual muda.

Organisasi Mahasiswa Beorientasi Kedaerahan.
Sejak tahun 2000-an sejumlah pemerintah daerah di Indonesia khususnya di luar Jawa memang telah menaruh perhatian besar kepada para mahasiswanya yang sedang studi diluar daerah asal. Sebagai misal mahasiswa asal provinsi Kepulauan Riau yang sedang melanjutkan studi di kota Bandung. Setiap kumpulan mahasiswa kabupaten dan kota se-Provinsi Kepulauan Riau memiliki asrama tersendiri. Ada yang disewa atas bantuan pemerintah daerah, ada pula yang dibantu sekadarnya. Bahkan ada asrama yang sengaja dibeli oleh Pemda dengan harga milyaran Rupiah.

Namun sayangnya fasilitas yang diberikan Pemda itu membuat sebagian kumpulan mahasiswa asal Kepri itu menjadi eksklusif. Mereka seolah berada dalam aquarium-aquarium yang tembus pandang, tetapi mengurung badan. Sungguh aneh ada organisasi kemahasiswaan dari daerah A melarang anggotanya berafiliasi dengan organisasi kemahasiswaan dari daerah B. Padahal mereka masih berada dalam satu provinsi, sama-sama orang Melayu, sama-sama beragama Islam, bahkan dulunya sebelum pemekaran daerah merupakan satu kesatuan wilayah. Lebih aneh lagi bila seorang anggota organisasi yang kebetulan salah satu orang tuanya berasal dari daerah A sedang lainnya dari daerah B, si anak diminta untuk memilih menjadi anggota hanya pada salah satu organisasi kemahasiswaan daerah A atau daerah B, tidak boleh kedua-duanya.

Anggota organisasi mahasiswa daerah A hanya boleh aktif di organisasi A, tidak di B tidak pula C. Tak peduli jika mahasiswa tersebut berkerabat dengan mahasiswa dari daerah B atau sahabat-sahabatnya aktif di organisasi mahasiswa daerah C. Pokoknya A ya… A, dan B ya… B.

Bagi saya sikap yang demikian bukan saja menggambarkan suatu pemikiran yang sempit tetapi telah mengarah pada prilaku yang rasis. Pandangan organisasi kemahasiswaan yang menjadikan asramanya atau kumpulan mereka hanya untuk mereka tok, dan menutup diri pada mahasiswa dari daerah lain terutama daerah yang masih bertetangga, masih se-provinsi, masih sesuku, masih sebahasa, dan masih seagama, serta memiliki ikatan gineologis adalah gejala rasisme yang ekstrem agak mirip dengan pemerintah Zionis yang menginginkan negara Israel hanya untuk bangsa Yahudi, atau seperti Jerman dimasa Hitler yang menginginkan negara Jerman hanya untuk ras Arya.

Inklusifisme KPMA Bandung
Saya bersukur Keluarga Pelajar Mahasiswa Anambas (KPMA) Bandung dibawah kepemimpinan Ketua Umum Matari Yasinullah Hasibuan (putra Melayu keturunan Batak) dan ketua DPPA Sasmiyanto (Melayu tulen yang meminjam nama Jawa) konsisten mempertahankan sikap inklusif organisasi yang sejak awal kami tanamkan. Asrama mahasiswa Anambas meski pada dasarnya ditujukan terutama dan paling utama untuk kepentingan mahasiswa asal kabupaten Kepulauan Anambas, namun tetap memberi ruang kepada mahasiswa dari daerah lain untuk tinggal bersama mereka. Asalkan masih memiliki hubungan kekerabatan dengan warga Anambas, atau mahasiswa asal kabupaten/ kota lain di Provinsi Kepulauan Riau yang meski tidak memiliki hubungan kekerabatan namun sudi berintegrasi dan komit dengan cita-cita bersama yakni membangun persaudaraan di tanah rantau, dan berdasarkan semangat menuntut ilmu pengetahuan ikut berkontribusi dalam pembangunan Anambas. Tentu saja tanpa merampas hak-hak mereka untuk juga terlibat dalam organisasi daerah asalnya.

KPMA Bandung meski sejatinya merupakan organisasi yang berorientasi kedaerahan tetapi tidak boleh menjadi organisasi yang eksklusif melainkan harus inklusif terlebih kepada mereka yang nyatanya adalah saudara-saudara kita juga. Sikap demikian dibutuhkan oleh Anambas sebagai kabupaten baru yang sedang dalam tahap awal pembangunan. Persahabatan kita dengan rekan-rekan mahasiswa dari daerah lain harus terus dibina, siapa tahu pertautan mereka dengan kita pada masa sekarang, kelak justru membuka ruang investasi akibat cerita dan kesan mereka tentang Anambas yang telah mereka sebar kepada rekan atau keluarga di daerah asal mereka. Andaipun espektasi yang demikian terlalu muluk setidaknya kita telah membina perkawanan baru dengan orang-orang yang sebelumnya tidak kita kenal. Raja Ali Haji dalam karyanya Gurindam XII yang termasyhur berkata Cahari olehmu akan kawan, pilih segala orang yang setiawan.

Namun saya belum cukup puas dengan paradigma berpikir KPMA yang positif ini. Saya mengharapkan perspektif organisasi yang inklusif dan nilai-nilai pluralitas harus terus dikembangkan dimasa-masa mendatang. Jika suatu masa KPMA Bandung mendapat fasilitas asrama yang lebih besar dan jauh lebih memadai saya berharap kita semua berkenan berbagi ruang dengan satu atau dua mahasiswa yang tidak hanya berbeda kabupaten dengan kita, tetapi berbeda provinsi, berbeda suku, berbeda bahasa, bahkan berbeda agama.

Mengutamakan mahasiswa Anambas untuk terlebih dahulu menikmati fasilitas yang diberikan pemerintah daerah Anambas itu adalah sebuah keharusan. Kecintaan KPMA terhadap Anambas sebagai daerah asal kita juga amat sangat penting. Tetapi sungguh tidak bijak jika spirit yang pro terhadap daerah asal itu justru berkembang menjadi pandangan kedaerahan yang super eksklusif, over etnosentrime, atau rasisme lokal yang amat membahayakan integrasi nasional.
Baca Selengkapnya...

29 Juni 2009

PILIH SIAPA YA ???

Pemilu Presiden kian dekat, tiga pasang capres dan cawapres sudah unjuk gigi dalam ragam kampanye dan debat. Meski ketiganya menampilkan diferensiasi yang cukup lugas setidaknya diatas kertas. Tetapi untuk menentukan pilihan satu diantarnya bukan hal yang mudah, tentu saja kalau kita berpikir dengan pendekatan yang rasional. Bagi pembaca yang memiliki pemahaman sama dengan saya agaknya uraian berikut, dapat menjadi input kita bersama sebelum berpartisipasi pada 8 Juli mendatang.

MEGA-PRO RAKYAT
Srikandi yang mulai rajin bicara, kalimat itu agaknya tepat disematkan pada Megawati Soekarno Putri. Alhasil banyak pihak yang mulai terkagum-kagum dengan putri sang proklamator itu. Lugas, tegas, berani dan yang pasti kaya raya itu julukan buat pasangan Mega, Prabowo Subianto.

Hemat saya pasangan ini adalah yang paling kongkret dalam menyampaikan janji politik. Selain berani menandatangani sejumlah kontrak politik dari mahasiswa yang menginginkan penghapusan UU BHP, mereka juga berani berjanji untuk meninjau ulang sistem outsourcing yang kerap merisaukan para buruh.

Ekonomi kerakyatan begitu slogan mereka. Mega-Pro berniat melakukan renegosiasi hutang-hutang Indonesia kepada pihak asing. Meninjau ulang kontrak-kontrak perusahaan tambang yang kebanyakan dikelola asing sehingga menyebabkan kekayaan Indonesia diangkut keluar negeri tanpa ampun. Kemiskinan, pengangguran, dan kebobrokan jamak bangsa kita adalah akibat kesalahan sistemik, sehingga harus diubah sistemnya, kata Prabowo. Tak ayal kalau jenderal berbintang tiga itu dijuluki Chaves-nya Indonesia atau Soekarno kecil. Mega-Pro juga pasangan yang paling optimistis (kalau tak mau disebut angin surga), pertumbuhan ekonomi dijanjikan bisa mencapai dua digit bila mereka memimpin bangsa ini.

Tapi janji manis saja tidak cukup, rekam jejak adalah sebuah kebutuhan untuk konsiderasi yang intersubjektif. Ketika tiga tahun memimpin Mega memang berhasil menjaga stabilitas ekonomi makro, tetapi penjualan Indosat kepada asing adalah setitik nila bagi Mega, walau nyatanya hal itu dilakukan akibat tekanan IMF yang direstui MPR. Mega juga enggan melakukan renegosiasi utang, malah gas bumi Indonesia dijual ke China dengan harga yang kelewat murah untuk masa yang kelewat panjang, 30 tahun. Soeharto, musuh nomor wahid rezim Soekarno juga tak berhasil diseret Mega ke meja hijau. Prabowo, meski telah berulang kali menyangkal sulit untuk mengatakan kalau yang bersangkutan tak terlibat penculikan sejumlah aktivis mahasiswa tahun 98.

SBY BERBUDI: LANJUTKAN
Selama memimpin SBY telah menunjukkan sejumlah keberhasilan, ekonomi makro yang relatif stabil justru dicapai ditengah kegocangan sejumlah negara akibat krisis financial global. Nama Indonesia yang mulai kembali berkibar di jagat internasional, program PNPM Mandiri, Kredit Usaha Rakyat, serta demokrasi yang semakin tumbuh subur, dan otonomi daerah yang berkembang. Integrasi Indonesia yang takkan terbayarkan dengan apapun jua, serta kondisi keamanan yang relatif terjaga adalah rangkaian keberhasilan SBY yang sulit disangkal.

Tapi sayangnya SBY terlalu pro asing. Saya tak butuh kamus ekonomi untuk mengatakan pasangan ini pendukung neo liberal. Lihat saja pada pada kontrak-kontrak Migas yang diserahkan ke asing seprti Blok Cepu misalnya walau Pertamina terang-terangan menyatakan bersedia mengelolanya. SBY dalam pernyataannya akhir-akhir ini menegaskan tak mau berpihak pada konglomerat rambut hitam. Dalih SBY adalah berlaku adil pada pengusaha asing ataupun pribumi. Sungguh pemikiran yang pro pasar bebas. Padahal negara paling liberal sekalipun kerap melakukan proteksi pada pengusaha lokal. Malaysia dibawah Mahathir lewat NEP (New Economy Policy)nya bahkan terang-terang bersikap pro pribumi atau Melayu.

Mau bertindak adil bagaimana? Pengusaha asing itu punya modal yang besar sedang pengusaha lokal modalnya terbatas. Kalau pemerintah bersikap adil alias menyerahkannya pada mekanisme pasar, pasti kita akan tergilas, inilah yang kita rasakan sekarang. Contoh paling sederhana lihat saja pada mall-mall di kota besar, berapa banyak counter yang menjual produk asli Indonesia? Para pedagang lokal tidak akan mampu bersaing dengan label-label terkenal dari mulai Levis, Lea, sampai Mc Donald, dan Sturbuck. Tidakkah adil dalam konteks ini sama dengan mengadu Gajah dengan kambing????... Andai saja ada kebijakan yang mewajibkan pengelola mall menyerahkan 40% saja dari counter2nya kepada pedagang lokal atau keberpihakan pemerintah pada pengusaha lokal dalam bentuk lain, saya haqqul yakin gorengan ayam mbok Tarsih ngga kalah dahsyatnya dengan Mc Donald atau Texas Fried Chicken. Sedang Budiono keberpihakannya dalam BLBI pada masa lampau bagi saya sama bahayanya dengan tuduhan menculik mahasiswa. Sedang soal hutang, SBY memang telah melunasi hutang dengan IMF bahkan lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan, tetapi hutang kita terutama hutang dalam negeri tetap bertambah dari tahun ketahun, tidakkah ini sama denga gali lobang tutup lobang.

Banyak yang bilang SBY berhasil memberantas korupsi, tapi orang agaknya lupa bahwa KPK yang dipimpin Antasari itu bukan dibawah presiden, ia adalah lembaga negara addhoc yang independen. Justru peryataan SBY beberapa waktu lalu yang menyiratkan bahwa KPK itu super body yang tanpa kontrol memiliki tendensi melemahkan lembaga ini. Sementara bagaimana dengan Kejaksaan, lembaga yang nyatanya dibawah presiden, beberapa hari lalu baru saja kelabakan akibat tidak becus mengurus Joko Tjandra, si terpidana yang berhasil kabur keluar negeri.

Pasangan Pilkada (kata Ali Muchtar Ngabalin) tapi berhasil meraup dukungan se-nusantara (setidaknya berdasarkan hasil survei LSI) itulah yang melekat pada pasangan nomor dua ini. Berwajah tampan dan wibawa, pandai bernyanyi pula, sungguh President look. Tapi please ah…kita tidak sedang memilih idol. Namun apa nyana, pencitraan memang menjadi handalan pasangan ini. Berpolitik santun begitu katanya, walau dibelakang menyerang. Alhasil jutaan orang Indonesia terbius dengan karismanya.

JK-WIN: LEBIH CEPAT LEBIH BAIK
SBY beruntung punya Capres seperti JK (begitu kata Buya Ma’arif), program BLT, dan penyelesaian konflik Aceh serta Ambon dan Poso, konon digagas JK, atau setidak-tidaknya JK berperan dominan. Kebijakan lain yang terus terang saya salut adalah keberhasilan JK mengkonversi Minyak tanah ke gas untuk kebutuhan rumah tangga, implikasinya adalah pengurangan subsidi BBM sehingga anggaran dapat dialokasikan untuk sektor lain yang lebih membutuhkan. JK juga kerap mengkritik para Bankir yang lebih suka menumpuk uang di brankas ketimbang menyalurkannya pada usaha rakyat kecil yang penuh resiko.

Meski bukan berlatar belakang militer, JK tau betul Alutsista kita harus diperhatikan dengan seksama agar pertahanan kita kuat, dan itu harus dicapai dengan meminimalisir ketergantungan pada asing. Industri persenjataan dalam negeri seperi PT. Pindad harus digallakkan tukas JK optimistis. Dan yang paling saya salut adalah keberpihakannya pada pengusaha dan pedagang lokal. JK ikut berkampanye dan merazia tamu serta bawahannya agar menggunakan produk Sepatu merk lokal seperti dari Cibaduyut. Kemandirian, itu adalah kata kuncinnya. Jika pasangan nomor satu kekiri-kirian, pasangan nomor dua jauh ke kakanan, maka JK-Wiranto persis ditengah. Dalam agama tertentu katanya ditengah itu lebih baik.

Tapi JK juga bukan tanpa cacat. Sikapnya yang keras kepala soal UN bagi saya adalah noda hitam buat JK. Dibanyak negeri di dunia UN memang diberlakukan tapi bukan penentu kelulusan, hal inipun sudah beberapa kali dikoreksi para pakar pendidikan di Indonesia, tapi JK tak peduli. Baginya UN adalah cara yang ampuh untuk meningkatkan standar. JK tersenyum kala melihat persentase kelulusan secara nasional cenderung naik setiap tahunnya. Walau dilapangan faktanya berkata lain, mencontek dalam UN, komersialisasi pendidikan, dan membumihanguskan makna pendidikan sebagai Tut Wurihandayani, adalah kelaziman yang jamak di tanah air dewasa ini. Semua orang fokus dengan hasil akhir, dan mereduksi pentingnya proses membangun mental dan kecerdasan siswa. Sedang skandal Lapindo mesti tak jelas betul konon ikut dilindungi oleh JK.

Tak cukup disitu, sikap JK kerap pragmatis kadang secara tak sengaja justru menunjukkan jiwanya yang inkonsisten. Sekali maju sekali mundur, akhirnya maju betulan. Wiranto, mantan Pangab yang katanya pada 1998 pernah mendapat surat sakti mirip Supersemar, namun memilih untuk mendukung reformasi, tetap sulit dihapus dari ingatan banyak orang tentang sejumlah pelanggaran HAM di Timor-Timur, walau yang bersangkutan telah mengklarifikasinya berulang kali.

Ketiga pasang Capres- dan Cawapres punya sisi positif dan negatif, betapapun sulit untuk menentukan pilihan yang rasional, saya berharap kita semua tidak golput. Ikut memilih bukan saja bagian dari pengejewantahan kewajiban sebagai warga negara, tetapi juga berkontribusi ikut menentukan nasib bangsa lima tahun kedepan. Pembangunan yang pro rakyat harus dilanjutkan dengan LEBIH CEPAT dan LEBIH BAIK….
Baca Selengkapnya...

20 Juni 2009

RAYAKAN SETAHUN KKA, MASYARAKAT ANAMBAS AKAN GELAR ZIKIR DAN MANCING BARENG.

Hari Rabu 24 Juni 2009 mendatang Kabupaten Kepulauan Anambas (KKA) tepat berusia satu tahun. Kabupaten termuda di provinsi Kepulauan Riau itu dibentuk berdasarkan UU No. 33 tahun 2008 setelah melalui proses perjuangan yang panjang. Masyarakat Anambas sudah sejak tahun 1999 mulai mewacanakan pembentukan Anambas sebagai sebuah daerah otonom. Namun gerakan advokasi yang nyata baru dimulai sejak tahun 2005. Kini, sebagai wujud rasa syukur atas tercapainya keinginan mereka, dalam memperingati hari jadi KKA yang pertama ini, masyarakat setempat berencana menggelar zikir bersama dan mancing bareng.

Informasi itu disampaikan oleh Wann Saros yang juga adalah Sekretaris Umum Badan Pembentukan dan Penyeleras Kabupaten Kepulauan Anambas (BP2KKA), sebuah lembaga non pemerintah yang dibentuk untuk menggagas advokasi pemekaran Anambas beberapa tahun lalu. Menurut Saros acara zikir dan doa bersama akan di gelar rumah-rumah ibadah tepat pada 24 Juni 2009. Para pengurus BP2KKA juga dijadwalkan akan melaksanakan Raker BP2KKA, dan melakukan peninjauan ke lapangan.

Sedang acara puncak syukuran sebagaimana disampaikan Saros dalam pesan singkatnya tadi pagi rencananya akan diselenggarakan pada 27 Juni 2009 yang dipusatkan di Terempa, ibukota KKA. BP2KKA kabarnya juga berencana menggelar diskusi publik bertajuk "Bincang Pemekaran-Menuai Berkah Otonomi Daerah", serta acara mancing bareng pada hari yang sama.

Semoga saja peringatan setahun hari jadi KKA ini dapat menjadi refleksi bagi masyarakat Anambas dan pemerintah setempat sehingga lebih termotivasi dalam melaksanakan pembangunan di Anambas ke depan. Meski perjuangan menjadikan Anambas sebagai daerah otonom telah usai, namun perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai yakni perjuangan memerangi kemiskinan, pengangguran, dan keterisoliran di seluruh kepulauan Anambas. Majulah Anambas, Jayalah Indonesia...
Baca Selengkapnya...

15 Juni 2009

KELULUSAN SISWA SMA DI ANAMBAS MEMPRIHATINKAN

Hari ini para siswa SMA ditanah air boleh jadi sedang asyik masygul merayakan kelulusan mereka setelah melewati Ujian Nasional yang menegangkan. Namun tak demikian agaknya dengan siswa-siswa SMA di kabupaten Kepulauan Anambas. Persentase kelulusan siswa SMA dan yang sederajat di kabupaten termuda di provinsi Kepulauan Riau itu hanya 30,06 persen. Bahkan kabarnya angka kelulusan di Madrasah Aliyah Fatahillah Terempa adalah nol persen alias tidak ada yang lulus. Sementara di SMAN 1 Siantan, dari 110 siswa kabarnya hanya 17 orang yang berhasil lulus.

Realitas ini sungguh memprihatinkan, apalagi selama ini persentase kelulusan di Anambas tidak pernah serendah ini. Sebagai sebuah kabupaten baru, Pemkab Kep. Anambas memang sedang berbenah diri untuk memperbaiki sektor pendidikan di daerah tersebut. Menurut rencana tahun ini Pemda setempat akan segera membangun gedung baru untuk SMAN 1 Siantan. Bangunan SMA tertua di kabupaten Kep. Anambas dan salah satu yang terlama di Kepulauan Riau itu selama ini menumpang di lahan milik warga di daerah Tanjung Momong Terempa.

Di Kepulauan Anambas saat ini terdapat 3 buah SMA dan 1 buah Madrasah Aliyah. Kondisi sekolah-sekolah tersebut hampir serupa. Selain memiliki keterbatasan sarana, kuantitas guru yang belum mencukupi juga menjadi persoalan sejak lama. Bahkan guru-guru yang berasal dari luar daerah juga kerap absen dari kewajibannya mengajar. Disamping itu persoalan kenakalan remaja seperti peredaran narkoba dan seks bebas yang semakin merebak akhir-akhir ini juga menjadi persoalan tersendiri yang bukan tak mungkin ikut berkontribusi bagi semakin merosotnya kualitas pendidikan di Anambas.

Persentase Kelulusan di Kepri
Ternyata bukan hanya di Anambas yang punya persoalan terkait rendahnya angka kelulusan siswa SMA sederajat. Di kabupaten Lingga bahkan lebih parah lagi, persentase kelulusan siswa di kabupaten tersebut hanya 17, 88 persen dan merupakan yang terendah di Kepri. Berdasarkan data Diknas Kepri, urutan tingkat persentase kelulusan UN SMA sederajat untuk kabupaten/kota se Kepri, pertama ditempati Kabupaten Bintan sebesar 95,26 persen. Kemudian Natuna 94,68 persen, Batam 91,85 persen, Tanjungpinang 88,38 persen, Karimun 83,64 persen, Anambas 30,06 persen, dan Kabupaten Lingga 17,88 persen. Secara keseluruhan persentase kelulusan ujian nasional (UN) untuk tingkat SMA sederajat se-Provinsi Kepri tahun ini sangat memprihatinkan. Hanya menyentuh angka 80,49 persen dari total peserta UN sebanyak 11.573 siswa, atau diperkirakan 2.000 lebih siswa yang tak lulus. (Batampos, 15 Juni 2009).

Oleh karena itu, rendahnya angka kelulusan di provinsi Kepulauan Riau, khususnya di kabupaten Kepulauan Anambas pada tahun ini harus menjadi cambuk bagi pihak-pihak terkait untuk lebih cepat lebih baik dalam mengoptimalkan peningkatan sektor pendidikan di wilayah ini.

Akhirnya, pemekaran daerah tentu diharapkan tak hanya memberi impak yang positif pada kemudahan dan ketersediaan pelayanan administrasi pemerintahan, tetapi yang lebih utama adalah implikasinya pada peningkatan kualitas pemenuhan kebutuhan dasar terutama pendidikan. Semoga!
Baca Selengkapnya...

08 Juni 2009

"RAJA" NATUNA JADI TERSANGKA

Penguasa nomor wahid di kabupaten Natuna akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Daeng Rusnadi ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka pada Jum'at 5 Juni kemarin. Daeng diduga melakukan korupsi terhadap APBD Natuna tahun 2004 khususnya dari pos DBH Migas sehingga menyebabkan kerugian negara mencapai Rp 72 Milyar Rupiah. Sebelumnya Mantan Bupati Natuna Hamid Rizal juga telah ditetapkan sebagai tersangka untuk kasus yang sama. Penetapan Daeng sebagai tersangka merupakan sebuah ikhtiar yang amat istimewa dalam rangka pemberantasan korupsi di negeri laut sakti rantau bertuah itu.

Disebut istimewa karena selama ini masyarakat Natuna telah menanti-nanti gebrakan dari para penegak hukum di negeri ini. Maklum Daeng yang dikenal juga menyandang banyak gelar akademik itu diperkirakan memiliki harta kekayaan yang melimpah ruah dan sering menggunakan kekuasaannya untuk membungkam pihak-pihak yang kritis terhadapnya. Sehingga kerap timbul dugaan bahwa isu korupsi Daeng yang selama ini beredar hanya akan menjadi isapan jempol belaka.

Penangkapan Daeng sebenarnya sudah sejak lama dinantikan masyarakat khususnya mereka yang jenuh melihat realitas penyimpangan di kabupaten Natuna yang sungguh vulgar. Sudah menjadi rahasia umum kalau selama ini para pejabat Natuna meski baru 2-3 tahun menjabat namun hidup bak borjuis, rumah bertingkat, mobil mewah, dan gaya hidup hedonis kerap dipertontonkan pada mayoritas masyarakat yang sebenarnya secara ekonomi sangat lemah (menghindari untuk mengatakan amat miskin). Bahkan Daeng dikabarkan memiliki pulau "pribadi" lengkap dengan villa dan segala fasilitasnya.

Daeng yang juga mantan guru agama itu kerap pula membagi-bagikan uang kepada masyarakat. Tak ayal setiap hari ada saja yang mengantri di kantornya, apalagi kalau bukan untuk meminta uang. Kondisi ini oleh sebagian kalangan dianggap sebagai suatu tindak pembodohan bagi masyarakat, karena membuat mereka menjadi tidak produktif dan peminta-minta. Namun Daeng sepertinya cukup senang diperlakukan demikian, hidup bak raja yang kaya nan pemurah.

Dengan ditetapkannya penguasa Natuna itu sebagai tersangka korupsi diharapkan menjadi titik balik bagi pembenahan penyelenggaraan pemerintahan di kabupaten Natuna agar sesuai dengan prinsip-prinsip Good Governance yang selama ini dinafikan Daeng. Natuna sebenarnya adalah kabupaten yang kaya, selain memiliki SDA Migas, Natuna juga potensial dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. Disamping itu letaknya yang strategis sangat mungkin mengantarkan daerah ini sebagai salah satu pusat pertumbuhan dan pertahanan. Tetapi karena selama ini dipimpin oleh mereka yang miskin inovasi, alhasil Natuna tetap dalam status quo.

Semoga saja kasus korupsi yang diungkap tidak hanya semasa Daeng menjabat sebagai ketua DPRD saja, tetapi juga dapat diteruskan pada kasus-kasus lain terutama setelah yang bersangkutan menjabat sebagai Bupati Natuna. Masih banyak kasus-kasus lain yang dicurigai publik sarat dengan KKN seperti kasus proyek pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Ranai, proyek Gerbang Utaraku yang menelan biaya ratusan milyar Rupiah, dan lain sebagainya. Bravo KPK, semoga yang bersangkutan diberikan hukuman setimpal.
Baca Selengkapnya...

05 Juni 2009

LAGI, MAHASISWA ANAMBAS DI BANDUNG "JUAL" MELAYU.

Mahasiswa Anambas di Bandung kembali unjuk gigi dalam mempromosikan budaya dan pariwisata Melayu. Kali ini mereka tampil membawakan tarian Serampang XII dan tarian Mak Inang Melenggang, dalam acara Travel Mart 09, kamis 4 Juni kemarin dalam satu acara promo wisata tahunan yang digagas oleh Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, atau yang lebih dikenal dengan NHI. Acara yang mengangkat tema "Reveal The Unknow Destination" itu sempat pula dihadiri oleh wakil gubernur Jawa Barat, yang juga seorang aktor kawakan Dede Yusuf.

Tarian Serampang XII dan Mak Inang Melenggang dibawakan dengan sangat kompak dengan gerakan-gerakannya yang dinamis oleh sejumlah mahasiswa Anambas yaitu Eka Fitriana, Murni Rahayu, OK M Akbar, dan M Rijalulhaq (mahasiswa Tanjung Pinang). Menurut Eka yang bertindak sebagai koordinator penari penampilan mereka pada acara Travel Mart 09 itu adalah bagian dari promo wisata Provinsi Kepulauan Riau yang digagas oleh Ikatan Keluarga Provinsi Kepulauan Riau (IKPKR) Bandung. IKPKR Bandung sudah dua tahun ini berpartisipasi dalam acara promo wisata yang juga diramaikan oleh penampilan dari sejumlah provinsi lainnya, seperti Lampung, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, dll.

Tak hanya menampilkan tarian Melayu, Eka dan kawan-kawannya juga diminta pembawa acara (MC) untuk sekilas mengajarkan tarian Melayu pada anak-anak SD yang ramai menyaksikan performance mereka. Walau tanpak kikuk para belia dari sejumlah SD di kota Bandung itu tanpak antusias mengikuti rentak irama Melayu yang mendayu namun dinamis.

Usai performa tim Tari, stand Provinsi Kepri yang dipajang sebuah perahu dan berlatar serba biru itu kembali dipadati sejumlah siswa sekolah. Mereka mengantri minuman khas dari Kepri yaitu Teh Tarik. Uniknya sebelum dapat mencicipi segelas teh tarik, mereka terlebih dahulu harus menjawab sejumlah pertanyaan terkait provinsi Kepulauan Riau yang diajukan oleh sejumlah mahasiswa NHI.

Menurut para mahasiswa NHI itu, acara Travel Mart 09 ini selain ditujukan untuk promo wisata kepada khalayak umum memang ditujukan juga untuk memperkenalkan macam ragam kebudayaan nusantara kepada anak-anak sekolah dasar dan menengah.

Mudah-mudahan dengan keikutsertaan masyarakat Kepri di Bandung dalam memperkenalkan pariwisata dan budaya Melayu, provinsi maritim yang berbatasan dengan Singapura, Malaysia dan laut China Selatan itu lebih dikenal oleh publik, dan berdampak positif terhadap perkembangan Kepri kedepan.
Baca Selengkapnya...

28 Mei 2009

YANG MUDA YANG DIATAS: INSPIRASI BUAT BIROKRASI

Menarik sekali menyaksikan acara Kick Andy di Metro TV hari Jum’at 22 Mei kemarin. Talk Show yang juga disiarkan ulang pada hari minggu siang itu mengangkat tajuk Young on Top. Kick Andy terkesan dengan kiprah beberapa orang yang meski masih berusia relatif muda namun telah berhasil menduduki jabatan penting diberbagai bidang dan lapangan pekerjaan.

Di dunia pendidikan misalnya, Kick Andy menampilkan Firmanzah. Pria yang baru berumur 32 tahun itu baru saja dilantik sebagai Dekan fakultas Ekonomi Univ. Indonesia. Selain Firman ada juga Anis Baswedan, pria yang pada tahun 2008 pernah dinobatkan sebagai salah satu dari 100 tokoh intelektual dunia oleh Jurnal Foreign Policy di Washington itu menjabat Rektor Univ. Paramadina saat usianya masih 38 tahun. Ada juga Yan Hendry Jauwena, di usianya yang ke-28 tahun menduduki posisi sebagai Trade Lane Manager DHL Asia-Pacifik. Dan Antonny Liem, pria kelahiran tahun 1976, mencapai posisi sebagai President Direktur di perusahaan IT Multi Nasional, di usia 26 tahun. Dari dunia BUMN, ada Katherina Patrisia, yang dicatat Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Direktur termuda di seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Satu lagi yang tak kalah hebat adalah, Billy Boen. Di usianya yang ke-26 Billy sudah menjabat sebagai General Manager untuk perusahaan brand termana, Oakley. Kini, di usia 30 tahun, Billy menjabat sebagai kepala divisi Food & Beverage di MRA Grup.

Namun dari sekian banyak tokoh yang ditampilkan Kick Andy, ternyata tak satupun yang berasal dari birokrasi pemerintahan. Boleh jadi Kick Andy lupa, atau bisa jadi juga memang tak ada anak muda yang berhasil mencapai jabatan puncak di birokrasi kala usianya masih muda. Maklum selama ini birokrasi kita terkenal dengan segala kebobrokannya. Sogok-menyogok, lamban, dan rekrutmen yang mengandalkan kekerabatan sudah jadi rahasia umum.

Mereka yang cerdas dan kreatif namun masih muda harus menunggu sampai seniornya pensiun untuk dapat menduduki jabatan-jabatan puncak di birokrasi. Pola patron klien sudah demikian mengakar. Ngga perlu repot-repot setiap empat tahun naik pangkat dan gajinya otomatis juga akan naik. Memang baru-baru ini kita mendengar usaha pemerintah untuk menerapkan gaji berbasis kinerja. Tidak lagi berdasarkan PGGS alias Pintar Goblok Gaji Sama. Tapi sejauh mana efektifitas implementasinya masih harus kita tunggu setidaknya sampai akhir tahun ini.

Selama ini birokrat muda harus puas dengan posisi-posisi bawah atau menengah. Mereka tak kuasa untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang kreatif nan inovatif untuk membuat pemerintahan lebih responsive dan progress. Kalaupun gagasannya diterima seringkali implementasinya sarat deviasi oleh karena kepentingan sang senior.

Padahal kata Tridodo W Utomo dalam tulisannya berjudul Pematangan Birokrat Muda Sebagai Faktor dan Aktor Kunci Dalam Reformasi Birokrasi, Birokrat muda dapat menjadi agent of reform atau key actor daripada proses pembenahan birokrasi kita. Karena menurut Utomo birokrat muda pertama, diasumsikan memiliki energi dan potensi perubahan yang signifikan untuk menuju pada suatu tatanan organisasi yang lebih dinamis. Pengalaman bangsa kita semenjak revolusi kemerdekaan hingga masa reformasi pasca Orde Baru membuktikan begitu kuatnya peranan pemuda dalam menginisiasi dan mengakselerasi perubahan.

Kedua, SDM dengan kompetensi unggul adalah inti dari birokrasi dan menjadi motor penggerak roda organisasi. SDM yang unggul akan dapat mengelola sumber-sumber daya aparatur secara efektif dan efisien; merumuskan kebijakan publik yang tepat dan berkualitas prima; menegakkan peraturan secara adil, jujur dan konsisten; menjalankan fungsi-fungsi manajemen secara taat azas, sekaligus mengawal organisasi untuk selalu berada pada jalur yang tepat untuk mencapai visi dan misinya. Dan harus diakui bahwa SDM yang memenuhi karakteristik tersebut, sebagian besar terdapat pada jenjang menengah (young bureaucrats).

Ketiga, birokrat muda relatif memiliki visi dan idealisme yang tinggi, dan belum banyak terpengaruh oleh patologi birokrasi seperti KKN, pemborosan sumber daya, arogansi jabatan, dan sebagainya.

Bureaucracy is the machine of the state, saya kira semua orang sepakat demikian. Hemat saya untuk membuat mesin itu berjalan efektif maka harus ada dinamisasi dan kompetisi didalamnya. Ini tak ubahnya suatu ikhtiar yang konkgret untuk menuju pemerintahan yang kompetitif. Senada seperti disampaikan Osborne dan Plastrik bahwa pemerintahan kompetitif mensyaratkan persaingan diantara para penyampai jasa atau pelayanan untuk bersaing berdasarkan kinerja dan harga. Mereka memahami bahwa kompetisi adalah kekuatan fundamental untuk memaksa badan pemerintah melakukan perbaikan. (Osborne dan Plastrik, Memangkas Birokrasi-Lima Strategi Menuju Pemerintahan Wirausaha, 2000).

Sudah saatnya birokrasi kita mengadopsi prinsip-prinsip organisasi modern salah satunya adalah dengan memberikan kesempatan yang sama bagi para orang-orang muda untuk menduduki jabatan-jabatan puncak. Dan tayangan Kick Andy minggu lalu itu adalah hikmah yang berharga untuk birokrasi kita, jika mereka mau menyelaminya.
Baca Selengkapnya...

20 Mei 2009

HANTU ITU BERNAMA TOEFL

Sudah dua hari ini badan saya kurang fit. Mungkin karena terlalu banyak bergadang. Tapi barangkali juga karena depresi mikirin skor Toefl, yang hasilnya baru bisa diketahui Rabu tadi siang.

Test of English as Foreign Language atau lazim disingkat Toefl, benar-benar jadi momok buat kami para penstudi di Program Pasca Sarjana Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung. Pasalnya pihak kampus mewajibkan skor miniminal 500 sebagai prasyarat mengikuti sidang Tesis atau Disertasi. Bagi saya yang sama sekali ngga punya basic sastra Inggris dan juga bagi kebanyakan teman-teman angka 500 cukup menakutkan.

Tak jarang seorang kandidat Magister atau Doktor gagal sidang hanya gara-gara score Toefl nya belum mencukupi 500. Bahkan kabar yang saya dengar dari staf di Lab. Bahasa Unpar ada beberapa mahasiswa yang Drop Out, gara-gara score Toefl yang belum mencukupi, sedang masa studinya sudah habis. Salah seorang kawan saya yang mengambil studi Hubungan Internasional, sudah 9 kali mengikuti test Toefl, tapi apa daya Dewi Fortuna belum berkenan menghampiri. Bahkan ada yang sudah sampai 11 kali. Masih banyak cerita-cerita seram yang membuat saya semakin kecut. Sudah lama saya tidak berada dibawah tekanan seperti ini.

Unpar benar-benar keterlaluan, perguruan tinggi negeri di Bandung setahu saya skor Toefl minimum yang dipersyaratkan hanya 450-475. Bahkan sebagian besar kampus swasta score Toefl hanya formalitas saja. Tapi pihak Rektorat Unpar tak mau peduli, mereka agaknya takut betul dianggap menurunkan kualitas kalau batas minimum score Toefl dikurangi atau malah dihapuskan sama sekali.

Sebenarnya bagi kebanyakan mahasiswa di Program Pasca Sarjana Unpar, yang namanya bahasa Inggris tak terlalu menjadi soal. Karena dalam perkualihan sehari-haripun 99 persen literatur yang dipakai menggunakan bahasa negeri Paman Sam itu. Tapi ternyata kemampuan membaca buku-buku berbahasa Inggris tak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menjawab soal-soal dalam Tes Toefl.

Saya sendiri juga cukup akrab dengan bahasa Inggris. Sejak 4 tahun lalu saya bergabung dengan sebuah English Conversation Club di kota Bandung. 3 tahun lalu saya juga sempat menjadi Language Helper untuk beberapa orang asing dari Amerika dan Australia yang sedang belajar bahasa dan budaya Indonesia di Bandung. Ternyata kebiasaan berbincang-bincang dalam bahasa Inggris tak banyak membantu dalam menjawab soal-soal Toefl.

Sudah empat kali saya ikut test Toefl. Test pertama kali sewaktu pertama masuk Unpar, saya hanya mampu meraih score 420. Sadar diri karena masih jauh dari batas minimum, saya sengaja mengambil Toefl Preparation Course. Ketika mid Test score Toefl saya naik sedikit menjadi 444, tapi ketika Final Test malah turun jadi 430. Satu bulan berikutnya saya memutuskan untuk ikut test lagi. Tapi sayangnya hanya mampu mencapai 469. Wah...benar-benar...Danger. Masa studi saya sudah hampir genap 4 semester. No more money for tuition, kontrakan juga sudah hampir habis. Kalau masih tidak lulus juga, ngga tau lah...

Siang tadi muka saya tampak agak pucat. Setelah menemui dosen pembimbing di kampus Jln Merdeka, saya langsung banting arah ke kampus Jln. Ciumbuleuit, tujuannya apalagi kalau bukan melihat hasil test Toefl yang baru saja saya jalani minggu lalu. Di lab bahasa tampak agak ramai, sebagian besar adalah mahasiswa program S1 yang mungkin sedang bernasib sama seperti saya. Begitu masuk ruangan, staf disana senyum-senyum sambil meledek saya. Uh...benar-benar...buat semakin deg-degan.., tak sabar melihat map warna biru yang sedang dikerumuni sejumlah mahasiswa. Dan Allhamdulillah, Finaly I've got 507 of Toefl score, n the Ghost already gone away...
Baca Selengkapnya...

12 Mei 2009

PELAJAR MAHASISWA ANAMBAS DI BANDUNG GELAR MUBES I

Dengan mengangkat tema "Berkemudi Akal, Bersauh Etika - Kita Wujudkan KPMA yang Cerdas, Solid, dan Berbudaya", pelajar, mahasiswa, dan pemuda asal Kabupaten Kepulauan Anambas yang tergabung dalam Keluarga Pelajar Mahasiswa Anambas Se-Bandung Raya (KPMA-BANDUNG), Sabtu 9 Mei 2009 kemarin menyelenggarakan Musyarah Besar (Mubes) untuk pertama kalinya.

Mubes yang dimulai sejak pukul 10 pagi itu dihadiri oleh sekitar 35 pelajar dan mahasiswa Anambas dari sekitar 50-an orang anggota yang tercatat dalam database organisasi, papar Zairul yang betindak sebagai Ketua Panitia Mubes.

Dalam Mubes tersebut Matari Yasinullah HS terpilih sebagai Ketua Umum, dan Sasmiyanto sebagai Ketua DPPA, dua anggota DPPA lainnya adalah Eka Fitriana dan Nandrey. Mubes juga menetapkan empat penasehat organisasi tiga diantaranya adalah Prof. Dr. M Zen, Drs. Wan Ahmad Adib Zain, dan Nong Nuraida.

Acara yang berlangsung penuh suasana kekeluargaan itu berakhir pada pukul empat sore. Kemudian pada malam harinya dilanjutkan dengan acara silaturrahmi dan syukuran atas penempatan asrama baru. Dalam acara syukuran tersebut juga dihadiri organisasi pelajar mahasiswa dari kabupaten Lingga, kota Tanjung Pinang, Kabupaten Bengkalis, Bintan dan Karimun serta sejumlah tetua dari keluarga provinsi Kepulauan Riau di Bandung, dan penasehat KPMA.

Sejak tiga minggu lalu pelajar, mahasiswa, dan pemuda Anambas di Bandung telah menempati asrama putra tersendiri bertempat di Jln. Cikaso no 19, Bandung. Sedang asrama putri sudah sejak 8 bulan lalu menempati rumah dijalan Batik Pekalongan no. 41 Bandung. KPMA Bandung pertama kali dibentuk pada tahun 2006, untuk mendukung perjuangan pembentukan Kabupaten Kepulauan Anambas. Namun baru pada tahun 2009 ini KPMA menyelenggarakan Mubes secara resmi, dan memiliki sekretariatnya sendiri.
Baca Selengkapnya...

09 Mei 2009

MEMETIK PELAJARAN DARI MUSIBAH DI SERASAN

Sabtu 2 Mei kemarin boleh jadi adalah hari yang paling menyedihkan bagi sebagian masyarakat di kecamatan Serasan, Kabupaten Natuna. Pasalnya KM Usaha Baru yang mengangkut sekitar 100-an orang penumpang tenggelam. Puluhan orang menjadi korban, dan enam orang diantaranya dipastikan meninggal dunia.

KM Usaha Baru tenggelam di depan pulau Serasan ketika mengangkut penumpang dari Serasan ke KM Bukit Raya yang akan menuju Tanjung Pinang, ibukota Provinsi Kepulauan Riau. Karena kecamatan Serasan belum memiliki pelabuhan laut yang memadai untuk tempat bersandar kapal sebesar KM Bukit Raya yang berkapasitas 1500 penumpang, maka di perlukan sebuah kapal pengangkut yang berukuran agak kecil atau biasa disebut Pompong. Namun apa nyana KM Usaha Baru yang ketika itu bertugas sebagai pompong pengangkut, karena diterjang ombak dan angin kencang ketika hendak merapat ke KM Bukit Raya terhempas dan menambrak badan kapal hingga tenggelam. Puluhanpun orang tercebur ke laut.

Musibah tersebut tentu mengguratkan duka yang mendalam tidak hanya kepada keluarga korban, tapi juga bagi warga Serasan. Dari lubuk hati yang paling dalam saya ingin menyampaikan belasungkawa, semoga para korban meninggal diterima disisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

Namun sungguh tidak bijak rasanya jika pihak-pihak terkait hanya menjadikan musiban ini sebagai cerita duka belaka. Harus ada yang bertanggungjawab, dan yang lebih penting adalah keseriusan pemerintah daerah untuk betul-betul memperhatikan pelayanan publik bagi masyarakat khususnya yang menyangkut dengan pelayanan transportasi laut.

Memang sulit dipercaya, kecamatan (Onderdistrict) Serasan yang sudah eksis sejak zaman kolonial Belanda, kemudian setelah Indonesia merdeka masuk dalam wilayah administratif Kabupaten Kepulauan Riau (kini Kabupaten Bintan), dan sejak tahun 1999 menjadi bagian dari kabupaten Natuna yang hingga kini telah berganti 3 kali Bupati, namun sampai sekarang belum juga memiliki sebuah pelabuhan laut yang layak.

Padahal baik pemerintah kabupaten Natuna ataupun pemerintah provinsi Kepulauan Riau memiliki anggaran daerah yang cukup besar. Pemerintah kabupaten Natuna misalnya tahun 2009 ini memiliki APBD 900 milyar lebih, sedang penduduknya hanya sekitar 60 ribu jiwa. Bahkan pada tahun 2006 APBDnya mencapai Rp. 1,3 trilyun. Sayangnya, pemerintah daerah setempat lebih mementingkan membangun proyek-proyek Mercu Suar seperti megak proyek Gerbang Utaraku yang menelan biaya hingga ratusan milyar Rupiah dari pada membangun proyek-proyek yang memiliki multiplyng effect seperti dermaga, jalan, jembatan, perumahan, dan pertokoan.

Selain itu, pemanfaatan sarana transportasi laut seperti pompong, baik yang berfungsi sebagai pompong pengangkut atau alat transportasi antar pulau belum memiliki standarisasi tertentu yang paling tidak dapat memenuhi standar keselamatan penumpang. Padahal bagi masyarakat kepulauan seperti di Natuna dan Anambas, pompong itu tak ubahnya seperti mobil bagi masyarakat di kota-kota besar. Jika pengendara mobil tak memakai seat belt bisa dikenakan denda, maka tak berlebihan juga rasanya kalau pompong diwajibkan memiliki pelampung. Sedang bagi pompong pengangkut seharusnya dipilih dari kapal motor yang berukuran agak besar berdasarkan suatu kriteria kelayakan tertentu yang sesuai untuk mengakut ratusan penumpang. Apalagi Natuna dan Anambas yang terletak di laut China Selatan itu terkenal berombak ganas. Pada musim utara bahkan bisa mencapai 3-4 meter.

Pemerintah daerah juga harus segera membangun dermaga yang layak, demi keselamatan dan pemenuhan terhadap hak-hak publik. Saat ini dibekas wilayah eks kewedanaan Pulau Tujuh (Natuna dan Anambas), hanya di Terempa dan Ranai yang sudah memiliki dermaga yang layak. Sedang lima kecamatan lainnya terpaksa masih harus menggunakan pompong pengangkut.

Peristiwa di Serasan memang kita anggap sebagai musibah, namun selayaknya musibah tersebut kita jadikan pelajaran berharga. Agar kedepan tak perlu lagi terjadi hal serupa, yang mana kontribusi terbesarnya adalah karena kelalaian kita. Kedepan jika terjadi musibah tak perlu menyalahkan alam, kitalah yang seharusnya berdamai (baca: menyesuaikan diri) dengannya.
Baca Selengkapnya...